Jangan pernah merusak kebahagiaan seseorang hanya karena kau ingin mendapatkan kebahagiaan, karena apapun hasil dari curian itu tidak akan pernah membawa pada kedamaian.
Dan kebahagiaan itu bukan dicari apalagi dicuri, karena kebahagiaan yang sesungguhnya itu adalah dari dirimu sendiri yang menciptakan.
Kau Bisa Bahagia Walau Tanpa Merebut Kebahagiaan Orang Lain
Mungkin kau merasa iri melihatnya sangat bahagia, oleh sebab itu kau melakukan banyak cara untuk merebutnya agar dia menjadi milikmu dan ingin bahagia juga seperti mereka.
Maka jangan pernah kau berpikir akan merasa bahagia ketika sudah merusak kebahagiaan orang lain.
Kau Pasti Akan Bahagia Tanpa Menghancurkan Kebahagiaan Orang Lain
Walau kau menang sudah merebutnya akan tetapi kau tidak akan pernah merasakan kebahagiaan selamanya dan tidak akan pernah merasa tenang meski sudah memilikinya.
Oleh karena itu percaya saja bahwa kau pasti akan bahagia tanpa merebut apalagi sampai merusak kebahagiaan orang lain.
Berbahagialah Tanpa Harus Menyingkirkan Orang Lain Untuk Mencuri Kebahagiaannya
Ketahuilah, kebahagiaan itu jangan dicuri karena kau tidak akan pernah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Dan mungkin awalnya kau memang bahagia karena sudah berhasil merebutnya akan tetapi curian itu tidak akan pernah membawamu kepada kebahagiaan yang sesungguhnya.
Apapun Hasil Curian Itu Tidak Akan Pernah Bertahan Lama Sekalipun Itu Yang Kau Curi Adalah Kebahagiaan
Oleh karena itu jangan pernah merusak kebahagiaan orang lain hanya demi ingin mendapatkan kebahagiaan.
Karena seumur hidup nanti kau akan merasa menyesal jika kau merusak kebahagiaan orang lain.
Kau Tidak Akan Pernah Tenang Meski Sudah Mendapatkan Kebahagiaan Karena Kebahagiaan Yang Kau Dapatkan Hasil Dari Merebut Kebahagiaan
Selamanya kau tidak akan pernah merasa tenang, hatimu akan selalu gelisah sehingga itulah yang tidak akan pernah membuatmu merasa bahagia seutuhnya.
Maka carilah kebahagiaanmu sendiri tanpa harus merusak kebahagiaan orang lain sehingga kau akan merasa bahagia tanpa merasa gelisah.
Jumat, 28 Februari 2020
Inilah Keutamaan Menikahi Janda yang ditinggal Mati Suaminya, Pahalanya Sangat Besar!
Barangkali Anda tak pernah berpikir untuk menikahi seorang janda. Dalam pikiran Anda, menikahi seohrang gadis lebih ‘afdhal’ daripada memilih perempuan yang sudah pernah mengarungi bahtera keluarga.
Eits, tapi tunggu dulu. Ternyata menikahi seorang janda tidaklah buruk. Langkah ini memiliki keutamaan, baik secara umum maupun secara khusus berdasarkan kondisi janda tersebut.
Paling tidak ada tiga hal positif menikahi seorang janda.
MENIKAHI JANDA SECARA UMUM
Menurut Abu Hurairah, orang yang berusaha untuk menghidupi para janda dengan menikahinya adalah orang yang berjuang di jalan Allah. Selain itu, ia juga bagaikan orang yang berpuasa di siang hari serta menegakkan shalat di malam hari.
Ada konteks mengenai “armalah” di sini yang perlu Anda perhatikan. Satu sumber mengatakan bahwa seorang ulama menyatakan tentang armalah berarti wanita yang tak memiliki suami, ia bisa dalam kondisi sudah menikah atau tidak. Ulama lainnya menyatakan bahwa armalah adalah seorang wanita yang telah diceraikan oleh suaminya.
Ibnu Qutaibah menyatakan pendapatnya yang lain, yaitu bahwa armalah berkaitan dengan kemiskinan. Wanita yang merupakan armalah tidak mampu menafkahi hidupnya lagi karena suaminya pun telah tiada.
Dalam hal-hal yang akan di bahas berikut, janda merujuk pada armalah menurut pendapat Ibnu Qutaibah. Artinya, janda yang dimaksudkan memang janda yang sudah tidak mampu menafkahi dirinya sehingga sang suami akan mendapatkan pahala menikahi janda.
MENIKAHI JANDA BISA MEMASTIKAN ANDA MENDAPATKAN WANITA YANG LEBIH DEWASA.
Selain memperoleh pahala menikahi seorang janda, menikahinya juga berarti bahwa Anda mendapatkan wanita yang lebih dewasa. Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan Anda menikahi seorang gadis.
Janda yang telah memiliki anak terutama akan memiliki pemikiran jauh lebih dewasa dibandingkan janda perawan. Janda pada umumnya memang memiliki emosi dan mental lebih kuat apalagi karena mereka harus bertahan hidup dan menjaga emosi dalam kondisi suami mereka telah tiada.
Jabir bin ‘Abdillah pernah menyatakan bahwa jika ia menikahi seorang perawan, ia takut perawan yang ia nikahi tersebut justru bermain dengan saudara-saudara perempuannya. Saat ia mengatakan hal tersebut kepada Rasul SAW, Rasul SAW membalas dengan pernyataan mengenai wanita yang dinikahi.
Wanita dinikahi karena seseorang memandang agama, kecantikan, dan hartanya. Namun, wanita yang agamanya paling baik harus dipilih karena ia pasti akan memberikan keberuntungan bagi suaminya. Pada akhirnya, Rasul SAW mencamkan alasan Jabir bin ‘Abdillah dalam menikahi seorang janda tersebut.
KEUTAMAAN MENIKAHI JANDA YANG DITINGGAL MATI SUAMI DAN HANYA MEMILIKI ANAK YATIM.
Pahala menikahi janda beranak bahkan semakin besar lagi. Anak yang dimiliki janda berarti anak yatim atau secara harfiah merupakan anak yang sudah tidak memiliki ayah.
Anak-anak inilah yang sepatutnya ditolong oleh orang yang mampu atau mampu menghasilkan nafkah secara teratur.
HR. Bukhari bahkan pernah berkata bahwa kedudukan seseorang yang menanggung anak yatim dengan kedudukannya sendiri sejauh regangan antara jari telunjuk dan jari tengahnya sendiri.
Artinya, kedudukan seseorang yang menghidupi seorang janda sekaligus anak yatimnya lebih tinggi dibandingkan seseorang yang menikahi kemudian menghidupi seorang gadis perawan.
Apapun pilihan Anda, menikahi seorang gadis perawan ataupun janda yang telah memiliki anak sesungguhnya baik adanya. Petinggi agama bahkan Rasul SAW memang telah menyatakan bahwa menikahi seorang janda memang lebih baik, tetapi selama Anda memperlakukan dan menafkahi istri Anda dengan sebaik-baiknya berarti Anda tidak salah.
Artikel tentang ternyata ini keutamaan menikahi janda dapat membantu Anda membuat keputusan dan sebagai bahan masukan Anda.
Eits, tapi tunggu dulu. Ternyata menikahi seorang janda tidaklah buruk. Langkah ini memiliki keutamaan, baik secara umum maupun secara khusus berdasarkan kondisi janda tersebut.
Paling tidak ada tiga hal positif menikahi seorang janda.
MENIKAHI JANDA SECARA UMUM
Menurut Abu Hurairah, orang yang berusaha untuk menghidupi para janda dengan menikahinya adalah orang yang berjuang di jalan Allah. Selain itu, ia juga bagaikan orang yang berpuasa di siang hari serta menegakkan shalat di malam hari.
Ada konteks mengenai “armalah” di sini yang perlu Anda perhatikan. Satu sumber mengatakan bahwa seorang ulama menyatakan tentang armalah berarti wanita yang tak memiliki suami, ia bisa dalam kondisi sudah menikah atau tidak. Ulama lainnya menyatakan bahwa armalah adalah seorang wanita yang telah diceraikan oleh suaminya.
Ibnu Qutaibah menyatakan pendapatnya yang lain, yaitu bahwa armalah berkaitan dengan kemiskinan. Wanita yang merupakan armalah tidak mampu menafkahi hidupnya lagi karena suaminya pun telah tiada.
Dalam hal-hal yang akan di bahas berikut, janda merujuk pada armalah menurut pendapat Ibnu Qutaibah. Artinya, janda yang dimaksudkan memang janda yang sudah tidak mampu menafkahi dirinya sehingga sang suami akan mendapatkan pahala menikahi janda.
MENIKAHI JANDA BISA MEMASTIKAN ANDA MENDAPATKAN WANITA YANG LEBIH DEWASA.
Selain memperoleh pahala menikahi seorang janda, menikahinya juga berarti bahwa Anda mendapatkan wanita yang lebih dewasa. Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan Anda menikahi seorang gadis.
Janda yang telah memiliki anak terutama akan memiliki pemikiran jauh lebih dewasa dibandingkan janda perawan. Janda pada umumnya memang memiliki emosi dan mental lebih kuat apalagi karena mereka harus bertahan hidup dan menjaga emosi dalam kondisi suami mereka telah tiada.
Jabir bin ‘Abdillah pernah menyatakan bahwa jika ia menikahi seorang perawan, ia takut perawan yang ia nikahi tersebut justru bermain dengan saudara-saudara perempuannya. Saat ia mengatakan hal tersebut kepada Rasul SAW, Rasul SAW membalas dengan pernyataan mengenai wanita yang dinikahi.
Wanita dinikahi karena seseorang memandang agama, kecantikan, dan hartanya. Namun, wanita yang agamanya paling baik harus dipilih karena ia pasti akan memberikan keberuntungan bagi suaminya. Pada akhirnya, Rasul SAW mencamkan alasan Jabir bin ‘Abdillah dalam menikahi seorang janda tersebut.
KEUTAMAAN MENIKAHI JANDA YANG DITINGGAL MATI SUAMI DAN HANYA MEMILIKI ANAK YATIM.
Pahala menikahi janda beranak bahkan semakin besar lagi. Anak yang dimiliki janda berarti anak yatim atau secara harfiah merupakan anak yang sudah tidak memiliki ayah.
Anak-anak inilah yang sepatutnya ditolong oleh orang yang mampu atau mampu menghasilkan nafkah secara teratur.
HR. Bukhari bahkan pernah berkata bahwa kedudukan seseorang yang menanggung anak yatim dengan kedudukannya sendiri sejauh regangan antara jari telunjuk dan jari tengahnya sendiri.
Artinya, kedudukan seseorang yang menghidupi seorang janda sekaligus anak yatimnya lebih tinggi dibandingkan seseorang yang menikahi kemudian menghidupi seorang gadis perawan.
Apapun pilihan Anda, menikahi seorang gadis perawan ataupun janda yang telah memiliki anak sesungguhnya baik adanya. Petinggi agama bahkan Rasul SAW memang telah menyatakan bahwa menikahi seorang janda memang lebih baik, tetapi selama Anda memperlakukan dan menafkahi istri Anda dengan sebaik-baiknya berarti Anda tidak salah.
Artikel tentang ternyata ini keutamaan menikahi janda dapat membantu Anda membuat keputusan dan sebagai bahan masukan Anda.
Tak Terima Anaknya Disetrap, Orangtua Murid Suruh Ustadzah Merangkak di Dalam Kelas
Seorang ustadzah di sebuah sekolah agama Malaysia mendapat perlakuan tak menyenangkan dari orangtua murid.
Perempuan yang dirahasikan namanya ini dipaksa merangkak di dalam kelas.
Kisah yang menimpa ustazah tersebut viral di media sosial, seusai dibagikan oleh seorang pengguna Facebook lewat video. Warganet banyak yang memberi kecaman.
Dalam rekaman berdurasi dua menit 17 detik tersebut, tampak seorang perempuan yang mengenakan kerudung hitam merangkak di dalam kelas, sembari ditonton murid-muridnya.
Dikutip dari laman Sinar Harian, Rabu (26/2/2020), insiden ini dipicu oleh orangtua murid yang tidak terima anaknya cedera sampai ketakutan berangkat ke sekolah, setelah disetrap ustazah tersebut.
Peristiwa tersebut terjadi di sekoah agama yang berada di Sungai Sumun, Bagan Datuk, pekan lalu.
Tak berselang lama setelah kasus tersebut viral, pengguna Facebook Nurhidayaty Maidin mengatakan bahwa dirinya telah menghubungi pihak sekolah tempat ustazah tersebut mengajar.
Ia mengungkapkan, pihak guru dan sekolah telah sepakat menyelesaikan kasus tersebut secara baik-baik.
“Namun sebagai pembelajaran supaya insiden ini tidak terulang, saya menyarankan pihak sekolah untuk menyediakan dokumen penting yang perlu ditangani si orangtua murid,” tulis Nurhidayaty.
“Jangan sekadar ucapan maaf seperti Hari Raya. Perlu juga ditempuh jalur hukum. Saya bersedia untuk memantau proses ini,” imbuhnya.
Orangtua Murid Minta Maaf
Bersamaan dengan hebohnya kabar ustazah yang dipaksa merangkak, muncul video permintaan maaf dari orangtua murid.
Video itu juga beredar di media sosial setelah dibagikan oleh akun Facebook Bagan Datuk Kini.
Disebutkan, pertemuan antara ustazah dan orangtua murid yang menghukumnya telah berlangsung di sekolah.
Dalam video tersebut, tampak ustazah memeluk muridnya dengan disaksikan oleh dua orang laki-laki. Kedua belah pihak memilih untuk berdamai.
“Permohonan maaf telah dibuat dan mohon video kejadian tersebut tidak dibagikan kembali demi kebaikan dua belah pihak. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran, pedoman dan teladan bagi ibu bapak, murid dan pihak sekolah,” demikian narasi unggahan Bagan Datuk Kini.
Unggahan tersebut tak ayal kembali memancing reaksi warganet. Tak sedikit dari mereka yang tetap meminta ustazah tersebut untuk tetap menempuh jalur hukum.
Sumber: suara.com
Perempuan yang dirahasikan namanya ini dipaksa merangkak di dalam kelas.
Kisah yang menimpa ustazah tersebut viral di media sosial, seusai dibagikan oleh seorang pengguna Facebook lewat video. Warganet banyak yang memberi kecaman.
Dalam rekaman berdurasi dua menit 17 detik tersebut, tampak seorang perempuan yang mengenakan kerudung hitam merangkak di dalam kelas, sembari ditonton murid-muridnya.
Dikutip dari laman Sinar Harian, Rabu (26/2/2020), insiden ini dipicu oleh orangtua murid yang tidak terima anaknya cedera sampai ketakutan berangkat ke sekolah, setelah disetrap ustazah tersebut.
Peristiwa tersebut terjadi di sekoah agama yang berada di Sungai Sumun, Bagan Datuk, pekan lalu.
Tak berselang lama setelah kasus tersebut viral, pengguna Facebook Nurhidayaty Maidin mengatakan bahwa dirinya telah menghubungi pihak sekolah tempat ustazah tersebut mengajar.
Ia mengungkapkan, pihak guru dan sekolah telah sepakat menyelesaikan kasus tersebut secara baik-baik.
“Namun sebagai pembelajaran supaya insiden ini tidak terulang, saya menyarankan pihak sekolah untuk menyediakan dokumen penting yang perlu ditangani si orangtua murid,” tulis Nurhidayaty.
“Jangan sekadar ucapan maaf seperti Hari Raya. Perlu juga ditempuh jalur hukum. Saya bersedia untuk memantau proses ini,” imbuhnya.
Orangtua Murid Minta Maaf
Bersamaan dengan hebohnya kabar ustazah yang dipaksa merangkak, muncul video permintaan maaf dari orangtua murid.
Video itu juga beredar di media sosial setelah dibagikan oleh akun Facebook Bagan Datuk Kini.
Disebutkan, pertemuan antara ustazah dan orangtua murid yang menghukumnya telah berlangsung di sekolah.
Dalam video tersebut, tampak ustazah memeluk muridnya dengan disaksikan oleh dua orang laki-laki. Kedua belah pihak memilih untuk berdamai.
“Permohonan maaf telah dibuat dan mohon video kejadian tersebut tidak dibagikan kembali demi kebaikan dua belah pihak. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran, pedoman dan teladan bagi ibu bapak, murid dan pihak sekolah,” demikian narasi unggahan Bagan Datuk Kini.
Unggahan tersebut tak ayal kembali memancing reaksi warganet. Tak sedikit dari mereka yang tetap meminta ustazah tersebut untuk tetap menempuh jalur hukum.
Sumber: suara.com
Jual Kue Untuk Bantu Orang Tua, Furqan Dan Nisa Harus Menempuh Jarak 40 Km Ke Sekolah
Muhammad Furqan Abdullah (17) dan Khairunisa Fadilah Risqi (16) bukan seperti remaja pada umumnya.
Mereka berbeda. Jika anak seusia mereka di sekolah sibuk belajar dan bermain, kakak beradik ini justru menunjukan sikap terpuji dan membanggakan.
Alasan dua orang siswa dan siswi SMKN 1 Woha ini cukup sederhana, tapi menyetuh palung hati. Mereka hanya tak ingin membebani orang tua.
Lalu untuk membantu mencukupi kebutuhan hidup dan biaya sekolah, keduanya mengambil alih sebagian peran orang tua mereka dengan berjualan kue kering, seperti kue pisang da cakar ayam di sekolah.
Furqan merupakan siswa baru di sekolah setempat. Ia duduk di bangku kelas X jurusan Tehnik Listrik SMKN1 Woha baru terhitung sejak sebulan yang lalu.
Meski sekolah sambil jualan, itu tidak menghambat proses belajarnya di dalam kelas. Apalagi sekedar memikirkan rasa malu, tak terlintas sedikitpun di benaknya.
Sementara Khairunisa Fadilah Risqi (17) duduk di bangku kelas XII Tehnik Komputer dan Jaringan (TKJ). Sejak kelas X hingga semester ganjil kelas XI selalu meraih juara 1. Sementara semester genap kelas XI ia meraih juara 2 kelas.
Furqan da Nisa lahir dari seorang ibu bernama Painem dan ayah bernama Jufrin. Tinggal bersama ketujuh saudaranya di Desa Doro O’o Kecamatan Langgudu.
Untuk menimba ilmu di SMKN 1 Woha, Furqan harus menempuh jarak sekitar 40 kilometer. Karena itu, dia harus selalu berangkat lebih awal, bahkan usai sholat subuh ia sudah bergegas berangkat.
Furqan yang ditemui media ini, Rabu (31/7) di sekolahnya menceritakan, setiap hari dia bisa menjual sampai 20 bungkus kue.
1 bungkus kue ia jual dengan harga Rp 5 ribu rupiah. Yang membeli kue jualanya cukup banyak, siswa hingga guru bahkan orang di luar sekolah yang juga memesan lewat guru setempat.
“Kadang ada yang pesan lewat guru juga,” ujarnya.
Ia mengaku tidak minder dan malu karena sekolah sambil jualan. Menurutnya jualan bukan merupakan hal yang buruk.
Selama yang dilakukan tulus mencari rejeki untuk membantu orang tua dan dilakukan dengan cara yang halal, maka tidak ada alasan untuk malu.
“Memang siswa-siswa yang lain tidak ada yang jualan, tapi saya tidak minder,” katanya.
Sementara di rumah, Furqan saudaranya yang lain membantu ibunya membuat kue atau jika tidak, ia membantu ayahnya membuat batako dan tiang-tiang emperan untuk dijual.
Ketua Jurusan Tehnik Listrik Jaharudin Abakar mengatakan, sangat bangga dengan aktivitas yang dilakukan oleh Furqan.
Berdasarkan pantauanya, meski menjual kue di lingkungan sekolah, Furqan selalu menjadi siswa yang aktif di kelas.
“Sangat rajin, dia tidak pernah bolos atau tidak hadir sekolah,” ungkapnya.
Kata dia, setiap hari Furqan selalu hadir di sekolah lebih awal. Bahkan, sebelum ia hadir, siswa sudah terlebih dahulu ada di sekolah.
“Mereka star subuh mungkin dari rumahnya di Kecamatan Langgudu,” katanya.
Di mata Jaharudin, Furqan merupakan anak yang tidak banyak bicara. Jika tidak bertanya tentang pelajaran atau tidak ditanya oleh guru, Furqan tidak akan berbicara.
“Dia tidak pernah ribut kalau lagi belajar di kelas,” katanya.
Sementara kakaknya Khairunisa Fadilah Risqi kata dia, adalah siswa yang berprestasi di dalam kelas. Sejak kelas X selalu meraih juara 1 di kelasnya.
“Mereka ini memang rajin dan pandai,” ungkapnya.
Ia berharap, semoga yang dilakukan Furqan da Nisa bisa menginspirasi siswa-siswa yang lain. Bahwa segala hal baik itu tidak perlu takut atau malu dilakukan. Termasuk jualan, yang penting halal.
Mereka berbeda. Jika anak seusia mereka di sekolah sibuk belajar dan bermain, kakak beradik ini justru menunjukan sikap terpuji dan membanggakan.
Alasan dua orang siswa dan siswi SMKN 1 Woha ini cukup sederhana, tapi menyetuh palung hati. Mereka hanya tak ingin membebani orang tua.
Lalu untuk membantu mencukupi kebutuhan hidup dan biaya sekolah, keduanya mengambil alih sebagian peran orang tua mereka dengan berjualan kue kering, seperti kue pisang da cakar ayam di sekolah.
Furqan merupakan siswa baru di sekolah setempat. Ia duduk di bangku kelas X jurusan Tehnik Listrik SMKN1 Woha baru terhitung sejak sebulan yang lalu.
Meski sekolah sambil jualan, itu tidak menghambat proses belajarnya di dalam kelas. Apalagi sekedar memikirkan rasa malu, tak terlintas sedikitpun di benaknya.
Sementara Khairunisa Fadilah Risqi (17) duduk di bangku kelas XII Tehnik Komputer dan Jaringan (TKJ). Sejak kelas X hingga semester ganjil kelas XI selalu meraih juara 1. Sementara semester genap kelas XI ia meraih juara 2 kelas.
Furqan da Nisa lahir dari seorang ibu bernama Painem dan ayah bernama Jufrin. Tinggal bersama ketujuh saudaranya di Desa Doro O’o Kecamatan Langgudu.
Untuk menimba ilmu di SMKN 1 Woha, Furqan harus menempuh jarak sekitar 40 kilometer. Karena itu, dia harus selalu berangkat lebih awal, bahkan usai sholat subuh ia sudah bergegas berangkat.
Furqan yang ditemui media ini, Rabu (31/7) di sekolahnya menceritakan, setiap hari dia bisa menjual sampai 20 bungkus kue.
1 bungkus kue ia jual dengan harga Rp 5 ribu rupiah. Yang membeli kue jualanya cukup banyak, siswa hingga guru bahkan orang di luar sekolah yang juga memesan lewat guru setempat.
“Kadang ada yang pesan lewat guru juga,” ujarnya.
Ia mengaku tidak minder dan malu karena sekolah sambil jualan. Menurutnya jualan bukan merupakan hal yang buruk.
Selama yang dilakukan tulus mencari rejeki untuk membantu orang tua dan dilakukan dengan cara yang halal, maka tidak ada alasan untuk malu.
“Memang siswa-siswa yang lain tidak ada yang jualan, tapi saya tidak minder,” katanya.
Sementara di rumah, Furqan saudaranya yang lain membantu ibunya membuat kue atau jika tidak, ia membantu ayahnya membuat batako dan tiang-tiang emperan untuk dijual.
Ketua Jurusan Tehnik Listrik Jaharudin Abakar mengatakan, sangat bangga dengan aktivitas yang dilakukan oleh Furqan.
Berdasarkan pantauanya, meski menjual kue di lingkungan sekolah, Furqan selalu menjadi siswa yang aktif di kelas.
“Sangat rajin, dia tidak pernah bolos atau tidak hadir sekolah,” ungkapnya.
Kata dia, setiap hari Furqan selalu hadir di sekolah lebih awal. Bahkan, sebelum ia hadir, siswa sudah terlebih dahulu ada di sekolah.
“Mereka star subuh mungkin dari rumahnya di Kecamatan Langgudu,” katanya.
Di mata Jaharudin, Furqan merupakan anak yang tidak banyak bicara. Jika tidak bertanya tentang pelajaran atau tidak ditanya oleh guru, Furqan tidak akan berbicara.
“Dia tidak pernah ribut kalau lagi belajar di kelas,” katanya.
Sementara kakaknya Khairunisa Fadilah Risqi kata dia, adalah siswa yang berprestasi di dalam kelas. Sejak kelas X selalu meraih juara 1 di kelasnya.
“Mereka ini memang rajin dan pandai,” ungkapnya.
Ia berharap, semoga yang dilakukan Furqan da Nisa bisa menginspirasi siswa-siswa yang lain. Bahwa segala hal baik itu tidak perlu takut atau malu dilakukan. Termasuk jualan, yang penting halal.
Hamil Anak Pertama Setelah Menanti 6 Tahun, Erlinda Meninggal Dunia Setelah Tertabrak Ibu-ibu Belajar Nyetir
Erlinda alias (ER) dan sang suami tengah menanti kelahiran anak pertamanya setelah enam tahun menanti.
Namun rupanya takdir berkata lain, wanita yang sedang hamil tujuh bulan itu meninggal dunia akibat kecelakaan tragis, pada Sabtu (22/2/2020).
Saat itu Erlinda yang baru saja pulang bekerja berniat menghampiri sang suami yang sudah menjemputnya di sebrang jalan.
Tiba-tiba mobil Toyota Rush yang dikemudikan Firda Meisari alias FMR melaju dengan sangat kencang, di Gang Madat Jalan Palmerah Utara IV, RT 13 RW 06, Palmerah, Jakarta Barat.
Padahal sebelumnya mobil tersebut tengah diam.
Erlinda terkejut namun tak bisa menghindar, sontak suami korban berusaha menghentikan laju mobil dengan kedua tangannya.
Namun usahanya itu sia-sia, Erlinda terbawa arus laju mobil hingga menabrak tiang listrik, sementara sang suami terjatuh di pinggir mobil.
ER bahkan sempat terjepit beberapa saat di tiang listrik.
Wardi (45) salah satu rekan korban yang menyaksikan kecelakaan itu mengatakan, saat kejadian, korban dan suaminya kendati berlumuran darah, namun masih sadar.
“Masih sadar, tapi emang luka parah di badannya, kemudian langsung dibawa oleh pelaku dan suaminya ke Rumah Sakit Bhakti Mulia,” kata Wardi ditemui di lokasi, Kamis (27/2/2020).
Wardi mengatakan, Firda Meisari saat kejadian sedang belajar mengemudi mobil yang didampingi sang suami yang merupakan warga negara Nigeria.
“Dia lagi belajar, orang sempat berhenti lama di depan. Pas korban nyeberang, kemungkinan dia salah injek pedal, niatnya mau injek rem malah nginjek gas,” papar Wardi.
Peristiwa kecelakaan ini pun sempat terekam CCTV yang terpasang di sekitar lokasi kejadian.
Wardi mengatakan, korban memang sedang mengandung anak pertamanya yang begitu dinantikan lantaran sudah menanti selama enam tahun.
“Korban ini hamil mau tujuh bulan, ini anak pertama sudah enam tahun nikah,” kata Wardi.
Wardi mengatakan, beberapa jam pasca kejadian, setelah dibawa ke rumah sakit, awalnya janin yang dikandung korban dinyatakan meninggal dunia.
Adapun korban menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (23/2/2020) pagi. Sedangkan sang suami selamat.
“Keduanya langsung dibawa ke kampungnya di Semarang untuk dimakamkan disana,” kata Wardi.
Pelaku Dihukum 6 Tahun
Firda Meisari, pengendara mobil yang menabrak wanita hamil hingga tewas saat ini sudah ditahan.
“Pelaku sudah diamankan, hari Minggu sudah kita tetapkan sebagai tersangka. Kemudian, kita lakukan penahanan,” kata Kasat Lantas Jakarta Barat, Kompol Hari Admoko saat dikonfirmasi, Kamis (27/2/2020).
Hari mengatakan, pelaku akan dikenai Pasal 310 ayat 3 dan 4 UU No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
“Ancamannya enam tahun penjara,” kata Hari.
Dijelaskan Hari, kecelakaan di Gang Madat Jalan Palmerah Utara IV, RT 13 RW 06, Palmerah, Jakarta Barat pada Sabtu (22/2/2020) siang itu disebabkan karena pelaku kaget hingga salah menginjak pedal rem.
Hari membenarkan bahwa pelaku memang tak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).
“Kalau kita lihat dari pemeriksaan, awalmya kendaraan ini berhenti, begitu mobil ini bergerak, dia kaget karena di sebelahnya ada pejalan kaki,” papar Hari.
“Kagetnya ini bukan ngerem tapi malah injek gas, hingga kedoronglah ibu hamil dan akhirnya kebentur ke tiang listrik,” tambahnya.
Sumber: tribunnews.com
Namun rupanya takdir berkata lain, wanita yang sedang hamil tujuh bulan itu meninggal dunia akibat kecelakaan tragis, pada Sabtu (22/2/2020).
Saat itu Erlinda yang baru saja pulang bekerja berniat menghampiri sang suami yang sudah menjemputnya di sebrang jalan.
Tiba-tiba mobil Toyota Rush yang dikemudikan Firda Meisari alias FMR melaju dengan sangat kencang, di Gang Madat Jalan Palmerah Utara IV, RT 13 RW 06, Palmerah, Jakarta Barat.
Padahal sebelumnya mobil tersebut tengah diam.
Erlinda terkejut namun tak bisa menghindar, sontak suami korban berusaha menghentikan laju mobil dengan kedua tangannya.
Namun usahanya itu sia-sia, Erlinda terbawa arus laju mobil hingga menabrak tiang listrik, sementara sang suami terjatuh di pinggir mobil.
ER bahkan sempat terjepit beberapa saat di tiang listrik.
Wardi (45) salah satu rekan korban yang menyaksikan kecelakaan itu mengatakan, saat kejadian, korban dan suaminya kendati berlumuran darah, namun masih sadar.
“Masih sadar, tapi emang luka parah di badannya, kemudian langsung dibawa oleh pelaku dan suaminya ke Rumah Sakit Bhakti Mulia,” kata Wardi ditemui di lokasi, Kamis (27/2/2020).
Wardi mengatakan, Firda Meisari saat kejadian sedang belajar mengemudi mobil yang didampingi sang suami yang merupakan warga negara Nigeria.
“Dia lagi belajar, orang sempat berhenti lama di depan. Pas korban nyeberang, kemungkinan dia salah injek pedal, niatnya mau injek rem malah nginjek gas,” papar Wardi.
Peristiwa kecelakaan ini pun sempat terekam CCTV yang terpasang di sekitar lokasi kejadian.
Wardi mengatakan, korban memang sedang mengandung anak pertamanya yang begitu dinantikan lantaran sudah menanti selama enam tahun.
“Korban ini hamil mau tujuh bulan, ini anak pertama sudah enam tahun nikah,” kata Wardi.
Wardi mengatakan, beberapa jam pasca kejadian, setelah dibawa ke rumah sakit, awalnya janin yang dikandung korban dinyatakan meninggal dunia.
Adapun korban menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (23/2/2020) pagi. Sedangkan sang suami selamat.
“Keduanya langsung dibawa ke kampungnya di Semarang untuk dimakamkan disana,” kata Wardi.
Pelaku Dihukum 6 Tahun
Firda Meisari, pengendara mobil yang menabrak wanita hamil hingga tewas saat ini sudah ditahan.
“Pelaku sudah diamankan, hari Minggu sudah kita tetapkan sebagai tersangka. Kemudian, kita lakukan penahanan,” kata Kasat Lantas Jakarta Barat, Kompol Hari Admoko saat dikonfirmasi, Kamis (27/2/2020).
Hari mengatakan, pelaku akan dikenai Pasal 310 ayat 3 dan 4 UU No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
“Ancamannya enam tahun penjara,” kata Hari.
Dijelaskan Hari, kecelakaan di Gang Madat Jalan Palmerah Utara IV, RT 13 RW 06, Palmerah, Jakarta Barat pada Sabtu (22/2/2020) siang itu disebabkan karena pelaku kaget hingga salah menginjak pedal rem.
Hari membenarkan bahwa pelaku memang tak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).
“Kalau kita lihat dari pemeriksaan, awalmya kendaraan ini berhenti, begitu mobil ini bergerak, dia kaget karena di sebelahnya ada pejalan kaki,” papar Hari.
“Kagetnya ini bukan ngerem tapi malah injek gas, hingga kedoronglah ibu hamil dan akhirnya kebentur ke tiang listrik,” tambahnya.
Sumber: tribunnews.com
Rabu, 26 Februari 2020
Cari Pasangan Hidup itu yang Mau Terima Apa Adanya dan Mau Berjuang dari Bawah!
Duh! Siapa sih yang gak mau kalau punya pasangan yang kayak begini? Biasanya cowok itu kalau cari pasangan itu pasti dari luar dulu.
Biasanya nih dari survey-survey yang terjadi di tempat nongkrong sambil makan emih goreng mana bayarnya pake duit gue belum dibalikin pula pada bilang kriterianya rata-rata itu seperti ini: Cantik, rambut panjang, pandai merawat tubuh, langsing, baik, rajin ibadah, rendah hati, yang penting kalau dibawa jalan-jalan gak malu-maluin.
Tentu saja ada dong tapi nyatanya waktu dapet gebetan gak ada yang sampai 100% sesuai keinginan kita. Pasti ada aja kekurangannya makannya.
Kalau dari PDKT dan pacaran udah tahu kejelekannya dan kalian bisa terima, ya pasti ke depannya gak masalah
Nyari Pasangan Hidup Tuh yang Bisa Diajak Susah dan Pengertian!
Seringkali yang salah dalam masa PDKT cowok itu suka menunjukkan segala keunggulan yang dia miliki ya bagus sih kalau dari segi karakter atau dari segi gentle-nya.
Kalau dari PDKT udah nunjukkin materi milik si cowok dipikir ulang deh jangan-jangan dia mau sama kamu hanya karena kamu punya mobil dan rumah mewah yang kalau perlu ada kolam renangnya doang? Jatuh cinta sama kamu atau apa yang kamu punya tuh?
“Memang butuh kita itu butuh! Harus realistis dong!”
Yap betul sekali, memang harus realistis tapi realistis di mata kalian itu seperti apa? Apa harus memiliki tas mahal yang minimal harganya seharga motor sport? Atau yang penting nyaman aja deh, punya rumah dan mobil aja sudah cukup supaya nanti setelah menikah gak pusing harus nyicil rumah dan mobil?
Nyatanya kita juga harus pandai melihat bagaimana keinginan pasangan kita itu, apakah kita bisa memenuhi kehidupannya menurut cara pandang dia.
Mungkin saja cara pandang kita dan doi sangat berbeda maka dari itu pahami gaya hidupnya sebelum pacaran.
Kalau standarnya dia ingin punya cowok yang punya mobil tapi kalian masih pake motor. Bisa dibayangkan gak sih apa benar bisa diajak susah? Seringkali kita mendengar ucapan kalau cari pasangan yang “sepadan” dan pastinya kita pun ingin menemukannya bukan? Setelah dilalui rasanya kalian akan merasa sepadan kalau kalian bisa sama-sama menerima tanpa harus menuntut apapun
Pikirkan sekali lagi dia nerima kamu apa adanya atau ada apanya? Cara tahunya gimana? Hati kalian pasti bisa merasakannya ketika keadaan sulit menerpa. So, admin hanya bisa berdoa bagi kalian yang cari pasangan hidup semoga mau diajak susah dan pengertian.
Biasanya nih dari survey-survey yang terjadi di tempat nongkrong sambil makan emih goreng mana bayarnya pake duit gue belum dibalikin pula pada bilang kriterianya rata-rata itu seperti ini: Cantik, rambut panjang, pandai merawat tubuh, langsing, baik, rajin ibadah, rendah hati, yang penting kalau dibawa jalan-jalan gak malu-maluin.
Tentu saja ada dong tapi nyatanya waktu dapet gebetan gak ada yang sampai 100% sesuai keinginan kita. Pasti ada aja kekurangannya makannya.
Kalau dari PDKT dan pacaran udah tahu kejelekannya dan kalian bisa terima, ya pasti ke depannya gak masalah
Nyari Pasangan Hidup Tuh yang Bisa Diajak Susah dan Pengertian!
Seringkali yang salah dalam masa PDKT cowok itu suka menunjukkan segala keunggulan yang dia miliki ya bagus sih kalau dari segi karakter atau dari segi gentle-nya.
Kalau dari PDKT udah nunjukkin materi milik si cowok dipikir ulang deh jangan-jangan dia mau sama kamu hanya karena kamu punya mobil dan rumah mewah yang kalau perlu ada kolam renangnya doang? Jatuh cinta sama kamu atau apa yang kamu punya tuh?
“Memang butuh kita itu butuh! Harus realistis dong!”
Yap betul sekali, memang harus realistis tapi realistis di mata kalian itu seperti apa? Apa harus memiliki tas mahal yang minimal harganya seharga motor sport? Atau yang penting nyaman aja deh, punya rumah dan mobil aja sudah cukup supaya nanti setelah menikah gak pusing harus nyicil rumah dan mobil?
Nyatanya kita juga harus pandai melihat bagaimana keinginan pasangan kita itu, apakah kita bisa memenuhi kehidupannya menurut cara pandang dia.
Mungkin saja cara pandang kita dan doi sangat berbeda maka dari itu pahami gaya hidupnya sebelum pacaran.
Kalau standarnya dia ingin punya cowok yang punya mobil tapi kalian masih pake motor. Bisa dibayangkan gak sih apa benar bisa diajak susah? Seringkali kita mendengar ucapan kalau cari pasangan yang “sepadan” dan pastinya kita pun ingin menemukannya bukan? Setelah dilalui rasanya kalian akan merasa sepadan kalau kalian bisa sama-sama menerima tanpa harus menuntut apapun
Pikirkan sekali lagi dia nerima kamu apa adanya atau ada apanya? Cara tahunya gimana? Hati kalian pasti bisa merasakannya ketika keadaan sulit menerpa. So, admin hanya bisa berdoa bagi kalian yang cari pasangan hidup semoga mau diajak susah dan pengertian.
Jangan Pernah Berpikir untuk Menyerah, Berjuanglah Sampai Hinaan Berubah Jadi Tepuk Tangan!
Saat kita Jatuh kita jadi tahu mana yang teman dan mana yang sahabat.
Saat kita gagal, kita jadi tahu mana yang betul-betul peduli dan mana yang hanya singgah dalam senang.
Saat kita tidak punya apa-apa, kita jadi bijak mengenal mana yang tulus dan mana yang bulus.
Saat kamu sukses, kaya dan lagi diatas dalam proses Kehidupan, semua orang akan memuji, semua orang akan menyanjung, bahkan semua orang akan mengaku kalau dia ikut berperan dalam suksesmu.
Tapi.. Pada saat kamu jatuh, pujian itu akan berubah menjadi jinaan, sanjungan itu akan berubah menjadi cacian.
Semua orang tidak akan pernah menganggapmu ada!
Percayalah!
Saat gagal semuanya menjadi gelap. Kamu akan ditinggalkan dan kamu seperti ilalang kering di padang tandus.
Tapi saat gagal itulah Tuhan akan menunjukan siapa yang setia dan siapa yang tidak setia.
Saat-saat gagal itulah pilihan kita cuma ada dua;
Meratapi kegagalan dan membiarkan semuanya menjadi Kalah,
Atau kamu bangkit dan menjadikan kegagalan itu sebagai acuan untuk bangkit dan terus bangkit.
Menangislah sekeras mungkin. Berteriaklah selantang Mungkin. Tidak apa-apa, tidak ada manusia hebat di dunia ini yang tidak pernah menangis dan berteriak karena gagal.
Menangis dan berteriak saat gagal. Bukan karena kita lemah, kita hanya manusia biasa. Kita bukan malaikat. Tumpahkan semua kesedihanmu dalam setiap doa-doamu.
Berdoalah, jangan meminta supaya semua masalahmu jadi Ringan. Tapi berdoalah dan mintalah agar pundak kita Kuat untuk memikul semua masalah yang kita hadapi. Ketahuilah, Tuhan menciptakan masalah selalu beserta solusinya.
Tapi setelah itu, kamu harus bangkit. Kamu harus jauh lebih hebat dari pada sebelumnya.
Kegagalan adalah guru terbaik yang akan mengajarkan kita untuk bangkit kembali dan mengetahui hal mana yang perlu kita hindari dikemudian hari.
Ketahuilah!
Anak panah akan melesat Jauh ke depan jika sebelumnya ditarik jauh ke Belakang.
Sama! Kesuksesan yang luar biasa pasti di raih setelah mengalami kegagalan yang teramat dalam.
Kegagalan hanya akan di rasakan oleh orang-orang yang mau berjuang. Kegagalan tidak akan terjadi kepada orang-orang pemalas yang mengabdikan hidupnya hanya untuk menjadi benalu kehidupan.
Bangkitlah!!! Tapi ingat, saat kamu berjuang lagi. Berjuanglah bersama orang-orang yang mau sama-sama berjuang. Bukan dengan orang-orang yang hanya mau diperjuangkan.
Saatnya merubah hinaan menjadi pujian.
Saatnya merubah cacian menjadi tepuk tangan. Saatnya mengembalikan apa yang sudah hilang. Kamu, Kita Pasti Bisa.
Pada saat sukses itu Datang, datangi semua orang-orang yang menghinamu pada saat gagal. Datangi semua orang yang meninggalkanmu pada saat terpuruk.
katakan kepada mereka. Terima kasih kawan karena dulu telah menghinaku. Setelah itu, pergilah dan doakan mereka, karena sesungguhnya nikmat terbesar dalam hidup adalah ketika kita ikhlas mendoakan orang yang membenci dan menghina kita.
JADILAH MANUSIA HEBAT. YANG DIHINA TAK TUMBANG, DAN YANG DIPUJI TAK TERBANG.
Stefen Eduard Yawan
Saat kita gagal, kita jadi tahu mana yang betul-betul peduli dan mana yang hanya singgah dalam senang.
Saat kita tidak punya apa-apa, kita jadi bijak mengenal mana yang tulus dan mana yang bulus.
Saat kamu sukses, kaya dan lagi diatas dalam proses Kehidupan, semua orang akan memuji, semua orang akan menyanjung, bahkan semua orang akan mengaku kalau dia ikut berperan dalam suksesmu.
Tapi.. Pada saat kamu jatuh, pujian itu akan berubah menjadi jinaan, sanjungan itu akan berubah menjadi cacian.
Semua orang tidak akan pernah menganggapmu ada!
Percayalah!
Saat gagal semuanya menjadi gelap. Kamu akan ditinggalkan dan kamu seperti ilalang kering di padang tandus.
Tapi saat gagal itulah Tuhan akan menunjukan siapa yang setia dan siapa yang tidak setia.
Saat-saat gagal itulah pilihan kita cuma ada dua;
Meratapi kegagalan dan membiarkan semuanya menjadi Kalah,
Atau kamu bangkit dan menjadikan kegagalan itu sebagai acuan untuk bangkit dan terus bangkit.
Menangislah sekeras mungkin. Berteriaklah selantang Mungkin. Tidak apa-apa, tidak ada manusia hebat di dunia ini yang tidak pernah menangis dan berteriak karena gagal.
Menangis dan berteriak saat gagal. Bukan karena kita lemah, kita hanya manusia biasa. Kita bukan malaikat. Tumpahkan semua kesedihanmu dalam setiap doa-doamu.
Berdoalah, jangan meminta supaya semua masalahmu jadi Ringan. Tapi berdoalah dan mintalah agar pundak kita Kuat untuk memikul semua masalah yang kita hadapi. Ketahuilah, Tuhan menciptakan masalah selalu beserta solusinya.
Tapi setelah itu, kamu harus bangkit. Kamu harus jauh lebih hebat dari pada sebelumnya.
Kegagalan adalah guru terbaik yang akan mengajarkan kita untuk bangkit kembali dan mengetahui hal mana yang perlu kita hindari dikemudian hari.
Ketahuilah!
Anak panah akan melesat Jauh ke depan jika sebelumnya ditarik jauh ke Belakang.
Sama! Kesuksesan yang luar biasa pasti di raih setelah mengalami kegagalan yang teramat dalam.
Kegagalan hanya akan di rasakan oleh orang-orang yang mau berjuang. Kegagalan tidak akan terjadi kepada orang-orang pemalas yang mengabdikan hidupnya hanya untuk menjadi benalu kehidupan.
Bangkitlah!!! Tapi ingat, saat kamu berjuang lagi. Berjuanglah bersama orang-orang yang mau sama-sama berjuang. Bukan dengan orang-orang yang hanya mau diperjuangkan.
Saatnya merubah hinaan menjadi pujian.
Saatnya merubah cacian menjadi tepuk tangan. Saatnya mengembalikan apa yang sudah hilang. Kamu, Kita Pasti Bisa.
Pada saat sukses itu Datang, datangi semua orang-orang yang menghinamu pada saat gagal. Datangi semua orang yang meninggalkanmu pada saat terpuruk.
katakan kepada mereka. Terima kasih kawan karena dulu telah menghinaku. Setelah itu, pergilah dan doakan mereka, karena sesungguhnya nikmat terbesar dalam hidup adalah ketika kita ikhlas mendoakan orang yang membenci dan menghina kita.
JADILAH MANUSIA HEBAT. YANG DIHINA TAK TUMBANG, DAN YANG DIPUJI TAK TERBANG.
Stefen Eduard Yawan
Tak Mau Jadi Pengemis, Anak Yatim ini Pilih Berjualan Kue Sambil Gendong Adiknya
Seorang anak perempuan asal Surabaya ini rela berjualan kue sambil gendong adik balitanya. Ia melakukannya demi membantu sang Ibu.
Kisah mengharukan dibagikan oleh seorang youtuber, Ade Septian. Lewat video yang diunggah di channel youtubenya, ia menceritakan perjuangan seorang anak perempuan penjual aneka kue.
Anak perempuan yang diketahui bernama Sandra tersebut menjual kue yang dijajahkan di dalam kerancang sepedanya. Sandra berjualan dengan mangkal di pinggir jalan tepat di depan supermarket di Pondok Chandra, Surabaya.
Kue yang dijual pun beraneka ragam, mulai dari kue abon, kue donat, keripik, hingga arem-arem dan masih banyak lagi. Semua kue-kue tersebut dijual dengan harga rata-rata Rp.3.000.
Dengan harga tersebut, Sandra mengaku hanya mendapat untung Rp.1.000 setiap kuenya. Yang mengharukan adalah Sandra berjualan sambil menggendong adik kecilnya yang masih berusia lima tahun.
Video yang berdurasi sekitar 12 menit itu juga menceritakan bahwa Sandra berjualan untuk membantu sang Ibu yang kini jadi orang tua satu-satunya yang dimiliki Sandra lantaran Ayahnya sudah meninggal.
Selain melalui youtuber, Ade Septian juga membagikan kisah Sandra melalui instagramnya @adeseptiannn sambil mempromosikan dagangan dan berharap bisa membantu melariskan dagangan Sandra.
Merasa tersentuh, netizen pun beramai-ramai ikut mempromosikan dan bahkan ada yang rela datang ke tempat jualan Sandra dan memborong jualannya tersebut.
“Ngeborong jajanannya Dek Sandra yang jualan di depan supermarket Pondok Chandra. Udah malem tapi masih belum abis. Beli dong kalau lewat, kalau gak suka kasih tetangga aja, setidaknya membantu dengan membeli. Sumpah Aku gak kuat mau nangis ini,” cerita salah satu netizen.
Menurut informasi, Sandra berjualan setiap hari setelah pulang sekolah mulai dari pukul 4 sore hingga pukul 8 malam. Bahkan terkadang Sandra harus lebih lama lagi berjualan karena dagangannya belum habis.
Kisah mengharukan dibagikan oleh seorang youtuber, Ade Septian. Lewat video yang diunggah di channel youtubenya, ia menceritakan perjuangan seorang anak perempuan penjual aneka kue.
Anak perempuan yang diketahui bernama Sandra tersebut menjual kue yang dijajahkan di dalam kerancang sepedanya. Sandra berjualan dengan mangkal di pinggir jalan tepat di depan supermarket di Pondok Chandra, Surabaya.
Kue yang dijual pun beraneka ragam, mulai dari kue abon, kue donat, keripik, hingga arem-arem dan masih banyak lagi. Semua kue-kue tersebut dijual dengan harga rata-rata Rp.3.000.
Dengan harga tersebut, Sandra mengaku hanya mendapat untung Rp.1.000 setiap kuenya. Yang mengharukan adalah Sandra berjualan sambil menggendong adik kecilnya yang masih berusia lima tahun.
Video yang berdurasi sekitar 12 menit itu juga menceritakan bahwa Sandra berjualan untuk membantu sang Ibu yang kini jadi orang tua satu-satunya yang dimiliki Sandra lantaran Ayahnya sudah meninggal.
Selain melalui youtuber, Ade Septian juga membagikan kisah Sandra melalui instagramnya @adeseptiannn sambil mempromosikan dagangan dan berharap bisa membantu melariskan dagangan Sandra.
Merasa tersentuh, netizen pun beramai-ramai ikut mempromosikan dan bahkan ada yang rela datang ke tempat jualan Sandra dan memborong jualannya tersebut.
“Ngeborong jajanannya Dek Sandra yang jualan di depan supermarket Pondok Chandra. Udah malem tapi masih belum abis. Beli dong kalau lewat, kalau gak suka kasih tetangga aja, setidaknya membantu dengan membeli. Sumpah Aku gak kuat mau nangis ini,” cerita salah satu netizen.
Menurut informasi, Sandra berjualan setiap hari setelah pulang sekolah mulai dari pukul 4 sore hingga pukul 8 malam. Bahkan terkadang Sandra harus lebih lama lagi berjualan karena dagangannya belum habis.
Setelah Menikah, Bakti Istri Akan Di Peruntukkan Untuk Suaminya, Dan Bakti Suami Akan Di Peruntukkan Untuk Ibunya
Seorang suami memiliki peran dan tanggung jawab yang lebih besar, di antaranya adalah peranan dan tanggung jawabnya kepada istrinya. Karena seorang istri sepenuhnya menjadi hak dan tanggung jawab suami. Namun demikian, seorang suami juga tetap berkewajiban untuk menafkahi orangtuanya. Karena orangtua adalah tanggung jawab anak laki-laki (suami).
Tapi yang harus diingat bahwa seorang ibu yang shaleh akan melahirkan anak yang shalih hingga tumbuh jadi suami yang shalih pula. Sedangkan istri yang shalih akan menjadikan rumah tangga suaminya penuh dengan cinta dan kasih sayang, membantu suami dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan memenuhi kewajiban suaminya karena seorang wanita adalah milik suaminya dan seorang laki-laki adalah milik ibunya.
Seorang istri tidak perlu cemburu kepada orang tua suaminya (mertua), karena dia yang telah melahirkan suaminya. Seorang Istri yang shalihah tidak akan menghalangi bakti suami kepada orangtuanya. Karena berbakti kepada orangtua adalah kewajiban besar yang diperintahkan Allah Swt. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran surah Al-Isra’ ayat 23:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkanmu supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan “ah” kepada keduanya. dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka dengan perkataan yang mulia,” (QS. Al-Isra’: 23).
Seorang wanita apabila telah menikah maka suaminya lebih berhak terhadap dirinya daripada kedua orangtuanya. Sehingga ia lebih wajib menaati suaminya. Allah k berfirman:
“Maka wanita yang shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada (bepergian) dikarenakan Allah telah memelihara mereka…” (An-Nisa’: 34)
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ، وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ، وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ
“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita yang shalihah. Bila engkau memandangnya, ia menggembirakan (menyenangkan)mu. Bila engkau perintah, ia menaatimu. Dan bila engkau bepergian meninggalkannya, ia menjaga dirinya (untukmu) dan menjaga hartamu.
ibu adalah tanggung jawab anak laki-laki (suami). Namun yang terjadi sekarang umumnya berbeda. Seorang suami sepenuhnya dimiliki oleh istri. Padahal masih ada orangtuanya yang wajib ia nafkahi.
hadis Rasulullah Saw., “Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita? Rasulullah menjawab: “Suaminya” (apabila sudah menikah). Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya lagi: “Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki? Rasulullah menjawab: “Ibunya,” (HR. Muslim).
Dari hadis di atas telah disebutkan bahwa yang berhak terhadap seorang laki-laki adalah ibunya. Namun bukan berarti seorang suami bebas menelantarkan istri demi seorang ibu. Itu salah, karena Ibu dan istri memiliki kedudukan yang sama pentingnya dalam islam, kedua-duanya harus diutamakan dan dimuliakan.
Tapi yang harus diingat bahwa seorang ibu yang shaleh akan melahirkan anak yang shalih hingga tumbuh jadi suami yang shalih pula. Sedangkan istri yang shalih akan menjadikan rumah tangga suaminya penuh dengan cinta dan kasih sayang, membantu suami dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan memenuhi kewajiban suaminya karena seorang wanita adalah milik suaminya dan seorang laki-laki adalah milik ibunya.
Seorang istri tidak perlu cemburu kepada mertuanya, karena dia yang telah melahirkan suaminya. Sebaliknya, yang layak untuk cemburu adalah mertua si istri. Seyogianya seorang istri membayangkan, jika mempunyai seorang anak laki-laki, ia bersusah payah melahirkannya sampai besar dengan keringatnya. Hingga suatu saat anak laki-lakinya itu menikah, kemudian ia melupakannya demi istri anak lelakinya itu.
Bagaimanakah perasaan si istri jika dilupakan oleh anaknya sendiri? Sungguh menyedihkan, bukan? Begitu pula sebaliknya.
Seorang Istri yang shalihah tidak akan menghalangi bakti suami kepada orangtuanya. Karena berbakti kepada orangtua adalah kewajiban besar yang diperintahkan Allah Swt. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran surah Al-Isra’ ayat 23:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkanmu supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan “ah” kepada keduanya. dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka dengan perkataan yang mulia,” (QS. Al-Isra’: 23).
Dari ayat tersebut jelas perintah Allah untuk berbakti kepada orangtua. Jadi seorang istri harusnya menyadari akan kewajiban suaminya untuk berbuat baik dan berterima kasih kepada kedua orangtuanya.
Sumber : bighio.com
Tapi yang harus diingat bahwa seorang ibu yang shaleh akan melahirkan anak yang shalih hingga tumbuh jadi suami yang shalih pula. Sedangkan istri yang shalih akan menjadikan rumah tangga suaminya penuh dengan cinta dan kasih sayang, membantu suami dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan memenuhi kewajiban suaminya karena seorang wanita adalah milik suaminya dan seorang laki-laki adalah milik ibunya.
Seorang istri tidak perlu cemburu kepada orang tua suaminya (mertua), karena dia yang telah melahirkan suaminya. Seorang Istri yang shalihah tidak akan menghalangi bakti suami kepada orangtuanya. Karena berbakti kepada orangtua adalah kewajiban besar yang diperintahkan Allah Swt. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran surah Al-Isra’ ayat 23:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkanmu supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan “ah” kepada keduanya. dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka dengan perkataan yang mulia,” (QS. Al-Isra’: 23).
Seorang wanita apabila telah menikah maka suaminya lebih berhak terhadap dirinya daripada kedua orangtuanya. Sehingga ia lebih wajib menaati suaminya. Allah k berfirman:
“Maka wanita yang shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada (bepergian) dikarenakan Allah telah memelihara mereka…” (An-Nisa’: 34)
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ، وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ، وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ
“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita yang shalihah. Bila engkau memandangnya, ia menggembirakan (menyenangkan)mu. Bila engkau perintah, ia menaatimu. Dan bila engkau bepergian meninggalkannya, ia menjaga dirinya (untukmu) dan menjaga hartamu.
ibu adalah tanggung jawab anak laki-laki (suami). Namun yang terjadi sekarang umumnya berbeda. Seorang suami sepenuhnya dimiliki oleh istri. Padahal masih ada orangtuanya yang wajib ia nafkahi.
hadis Rasulullah Saw., “Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita? Rasulullah menjawab: “Suaminya” (apabila sudah menikah). Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya lagi: “Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki? Rasulullah menjawab: “Ibunya,” (HR. Muslim).
Dari hadis di atas telah disebutkan bahwa yang berhak terhadap seorang laki-laki adalah ibunya. Namun bukan berarti seorang suami bebas menelantarkan istri demi seorang ibu. Itu salah, karena Ibu dan istri memiliki kedudukan yang sama pentingnya dalam islam, kedua-duanya harus diutamakan dan dimuliakan.
Tapi yang harus diingat bahwa seorang ibu yang shaleh akan melahirkan anak yang shalih hingga tumbuh jadi suami yang shalih pula. Sedangkan istri yang shalih akan menjadikan rumah tangga suaminya penuh dengan cinta dan kasih sayang, membantu suami dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan memenuhi kewajiban suaminya karena seorang wanita adalah milik suaminya dan seorang laki-laki adalah milik ibunya.
Seorang istri tidak perlu cemburu kepada mertuanya, karena dia yang telah melahirkan suaminya. Sebaliknya, yang layak untuk cemburu adalah mertua si istri. Seyogianya seorang istri membayangkan, jika mempunyai seorang anak laki-laki, ia bersusah payah melahirkannya sampai besar dengan keringatnya. Hingga suatu saat anak laki-lakinya itu menikah, kemudian ia melupakannya demi istri anak lelakinya itu.
Bagaimanakah perasaan si istri jika dilupakan oleh anaknya sendiri? Sungguh menyedihkan, bukan? Begitu pula sebaliknya.
Seorang Istri yang shalihah tidak akan menghalangi bakti suami kepada orangtuanya. Karena berbakti kepada orangtua adalah kewajiban besar yang diperintahkan Allah Swt. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran surah Al-Isra’ ayat 23:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkanmu supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan “ah” kepada keduanya. dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka dengan perkataan yang mulia,” (QS. Al-Isra’: 23).
Dari ayat tersebut jelas perintah Allah untuk berbakti kepada orangtua. Jadi seorang istri harusnya menyadari akan kewajiban suaminya untuk berbuat baik dan berterima kasih kepada kedua orangtuanya.
Sumber : bighio.com
Guru di Makassar ini Tak Tegur Siswanya yang Lagi Merokok di Sampingnya Gara Gara Takut Melanggar HAM
Beralasan melanggar HAM (Hak Asasi Manusia), seorang guru di Makassar yang tak mengambil tindakan tegas pada siswa di sampingnya yang merokok mendapat kritikan tajam dari pihak guru-guru lain.
Sebelumnya, Ambo (51), guru Bahasa Indonesia di Yayasan SMA Ilham Makassar didatangi salah seorang muridnya ketika memberikan mata pelajaran.
Sang siswa kemudian merokok dan berpose santai, menggunakan aksesories kacamata, di samping Ambo, tanpa rasa takut sedikit pun.
Foto tak terpuji itu pun dengan cepat menyebar luas di media sosial, hingga sampai ke tangan Dinas Pendidikan Kota Makassar, dan berujung pada pemanggilan Ambo.
Pada saat dimintai penjelasan atas ulah siswanya, Ambo pun berdalih tak menegurnya lantaran tidak ingin dianggap melanggar HAM.
Namun banyak yang berspekulasi jika Ambo tak ingin berurusan dengan polisi.
Seperti yang kita ketahui fenomena di Indonesia saat ini, ketika guru mengambil tindakan tegas untuk memberi pelajaran terhadap muridnya, orangtua murid tak terima dan kemudian melapor kepada polisi.
Dan mungkin inilah yang dihindari oleh Ambo.
Akan tetapi, langkah yang diambilnya membuat guru lain geram. Termasuk diantaranya Zainita Zakiah, salah seorang guru SMK di Makassar.
Dia bahkan berkata tidak masalah jika harus berujung pidana, demi menanamkan nilai-nilai baik pada murid.
“Saya juga seorang guru. Miris lihatnya. Kalau saya di posisi bapak guru, gak akan saya biarkan siswa saya berbuat demikian. Penjara-penjara deh, daripada dibiarkan semakin kurang ajar, jadi contoh untuk yang lain. Jadi guru jaman sekarang memang susah, dikit-dikit HAM, tapi kalau niat kita untuk membantu anak bangsa biar lebih baik lagi, insya allah dimudahkan jalannya. Karena sekarang attitude first,” tulisnya, dilansir news.okezone.com.
Sumber : palingseru.com
Sebelumnya, Ambo (51), guru Bahasa Indonesia di Yayasan SMA Ilham Makassar didatangi salah seorang muridnya ketika memberikan mata pelajaran.
Sang siswa kemudian merokok dan berpose santai, menggunakan aksesories kacamata, di samping Ambo, tanpa rasa takut sedikit pun.
Foto tak terpuji itu pun dengan cepat menyebar luas di media sosial, hingga sampai ke tangan Dinas Pendidikan Kota Makassar, dan berujung pada pemanggilan Ambo.
Pada saat dimintai penjelasan atas ulah siswanya, Ambo pun berdalih tak menegurnya lantaran tidak ingin dianggap melanggar HAM.
Namun banyak yang berspekulasi jika Ambo tak ingin berurusan dengan polisi.
Seperti yang kita ketahui fenomena di Indonesia saat ini, ketika guru mengambil tindakan tegas untuk memberi pelajaran terhadap muridnya, orangtua murid tak terima dan kemudian melapor kepada polisi.
Dan mungkin inilah yang dihindari oleh Ambo.
Akan tetapi, langkah yang diambilnya membuat guru lain geram. Termasuk diantaranya Zainita Zakiah, salah seorang guru SMK di Makassar.
Dia bahkan berkata tidak masalah jika harus berujung pidana, demi menanamkan nilai-nilai baik pada murid.
“Saya juga seorang guru. Miris lihatnya. Kalau saya di posisi bapak guru, gak akan saya biarkan siswa saya berbuat demikian. Penjara-penjara deh, daripada dibiarkan semakin kurang ajar, jadi contoh untuk yang lain. Jadi guru jaman sekarang memang susah, dikit-dikit HAM, tapi kalau niat kita untuk membantu anak bangsa biar lebih baik lagi, insya allah dimudahkan jalannya. Karena sekarang attitude first,” tulisnya, dilansir news.okezone.com.
Sumber : palingseru.com
Rawat Ayah dan Neneknya, Bocah Kelas 5 SD ini Harus Jadi Tulang Punggung Keluarga
Bukan menghabiskan waktu dengan belajar dan bermain, setiap hari, Aan Nur Pratama mengisi harinya dengan sekolah, merawat ayah dan nenek, serta bekerja di pabrik batu bata.
Ya, inilah kenyataan pahit yang sedang dihadapi oleh bocah kelas 5 SD Negeri Wanio, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, setelah sang ayah Bahri yang menjadi satu-satunya harapan mengalami lumpuh akibat kecelakaan kerja.
“Saya sudah enam tahun menderita lumpuh akibat kecelakaan kerja. Saat itu saya tertimpa batu bata, dan divonis patah tulang belakang. Beruntung Aan bisa merawat saya dan neneknya yang sekarang sudah pikun,” kata Bahri di rumahnya Desa Bapanggi, Kecamatan Panca Lautang.
Sejak saat itulah, aktivitas sehari-hari Aan mulai berubah. Dari yang awalnya hanya sekolah dan menjaga sang nenek, kini juga harus merangkap bekerja sebagai pengrajin batu bata demi bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Dari pekerjaannya, melansir today.line.me, Aan mendapat upah sebesar Rp 30 ribu setelah setengah hari menjemur batu bata sebanyak 7.000 hingga 10.000.
Saat ditanya mengenai aktivitas yang dijalaninya, jawaban yang keluar dari mulut bocah polos itu pun membuat haru.
“Capek. Namun untuk biaya sekolah dan kebutuhan keluarga, sakit dan peluh terbiasa.”
“Saya juga akan menabung demi mengejar cita-cita menjadi tentara dan polisi,” ucapnya sambil menyeka keringat yang bercucuran.
Sumber : palingseru.com
Ya, inilah kenyataan pahit yang sedang dihadapi oleh bocah kelas 5 SD Negeri Wanio, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, setelah sang ayah Bahri yang menjadi satu-satunya harapan mengalami lumpuh akibat kecelakaan kerja.
“Saya sudah enam tahun menderita lumpuh akibat kecelakaan kerja. Saat itu saya tertimpa batu bata, dan divonis patah tulang belakang. Beruntung Aan bisa merawat saya dan neneknya yang sekarang sudah pikun,” kata Bahri di rumahnya Desa Bapanggi, Kecamatan Panca Lautang.
Sejak saat itulah, aktivitas sehari-hari Aan mulai berubah. Dari yang awalnya hanya sekolah dan menjaga sang nenek, kini juga harus merangkap bekerja sebagai pengrajin batu bata demi bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Dari pekerjaannya, melansir today.line.me, Aan mendapat upah sebesar Rp 30 ribu setelah setengah hari menjemur batu bata sebanyak 7.000 hingga 10.000.
Saat ditanya mengenai aktivitas yang dijalaninya, jawaban yang keluar dari mulut bocah polos itu pun membuat haru.
“Capek. Namun untuk biaya sekolah dan kebutuhan keluarga, sakit dan peluh terbiasa.”
“Saya juga akan menabung demi mengejar cita-cita menjadi tentara dan polisi,” ucapnya sambil menyeka keringat yang bercucuran.
Sumber : palingseru.com
Sambil Menahan Tangis, Pembina Pramuka ini Minta Maaf Telah Lalai Hingga 10 Siswa Meninggal Akibat Kegiatan Susur Sungai
Untuk pertama kalinya setelah heboh tragedi susur Sungai Sempor, tersangka IYA, guru olahraga SMPN 1 Turi selaku pembina Pramuka muncul di ruang publik dalam jumpa pers di Mapolres Sleman, Selasa (25/2/2020).
Tersangka IYA (36), merupakan satu dari tiga orang yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang menewaskan 10 siswa ini.
Dalam kesempatan tersebut, tersangka IYA menyampaikan penyesalan dan permintaan maafnya kepada pihak sekolah dan keluarga korban.
“Pertama, saya mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada instansi saya, SMP Negeri 1 Turi, karena atas kelalaian kami terjadi hal seperti ini,” ucap IYA, dengan mengenakan baju tahanan berwarna oranye.
“Kedua, kami sangat menyesal dan memohon maaf kepada keluarga korban, terutama keluarga korban yang sudah meninggal,” lanjut dia sembari menahan tangis.
“Semoga keluarga korban bisa memaafkan kesalahan-kesalahan kami,” tuturnya.
Tersangka IYA juga mengatakan bahwa dirinya ikhlas menjalani proses hukum atas kelalaiannya.
“Ini sudah menjadi risiko kami sehingga apa pun yang nanti menjadi keputusan akan kami terima,” katanya.
Sementara dua tersangka lainnya ialah R, guru seni budaya SMP Negeri 1 Turi, dan DDS, tenaga bantu pembina Pramuka dari luar sekolah SMP Negeri 1 Turi, melansir Kompas.com.
Sumber : palingseru.com
Tersangka IYA (36), merupakan satu dari tiga orang yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang menewaskan 10 siswa ini.
Dalam kesempatan tersebut, tersangka IYA menyampaikan penyesalan dan permintaan maafnya kepada pihak sekolah dan keluarga korban.
“Pertama, saya mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada instansi saya, SMP Negeri 1 Turi, karena atas kelalaian kami terjadi hal seperti ini,” ucap IYA, dengan mengenakan baju tahanan berwarna oranye.
“Kedua, kami sangat menyesal dan memohon maaf kepada keluarga korban, terutama keluarga korban yang sudah meninggal,” lanjut dia sembari menahan tangis.
“Semoga keluarga korban bisa memaafkan kesalahan-kesalahan kami,” tuturnya.
Tersangka IYA juga mengatakan bahwa dirinya ikhlas menjalani proses hukum atas kelalaiannya.
“Ini sudah menjadi risiko kami sehingga apa pun yang nanti menjadi keputusan akan kami terima,” katanya.
Sementara dua tersangka lainnya ialah R, guru seni budaya SMP Negeri 1 Turi, dan DDS, tenaga bantu pembina Pramuka dari luar sekolah SMP Negeri 1 Turi, melansir Kompas.com.
Sumber : palingseru.com
6 Bocah ini Jadi Anak Yatim Piatu dalam Sehari, Ayahnya Meninggal Ketika Istrinya Dimandikan
Dalam sehari sekaligus, enam orang anak di Balikpapan Selatan, Kalimantan Timur, ditinggal pergi selama-lamanya oleh kedua orangtuanya.
Ya, keenam anak malang itu menyandang status yatim-piatu secara bersamaan pada Minggu (23/2/2020).
Sang ibu, Siti Haryanti lebih dulu pergi meninggalkan mereka karena tensi darah meningkat setelah melahirkan anak keenam 1 bulan yang lalu.
Kemudian disusuli oleh suaminya, yang juga mengalami peningkatan pada tensi darahnya.
“Sebelumnya anak saya (Siti) itu kan tensinya naik waktu periksa di Puskesmas mulai dari situ sudah tidak normal. Anak saya itu meninggalnya hari Minggu kemarin. Tidak lama kemudian setelah anak saya meninggal itu, suaminya juga langsung naik tensi dan dilarikan ke rumah sakit. Dan tidak lama langsung muncul kabar kalau dia sudah meninggal juga sementara (jenazah) anak saya ini masih dimandikan di rumah,” terang Wa Ode Rusdiana (52), ibu mendiang Siti, dikutip dari Warta Kota.
Kini, keenam bocah malang tersebut diasuh oleh sang nenek Wa Ode Rusdiana dan suaminya, Mustafa (53), dengan dibawa di kediaman mereka di RT 20, Kelurahan Sepinggan Raya, Kecamatan Balikpapan Selatan.
Adapun keenam anak mendiang Siti masih sangat kecil-kecil. Anak pertama baru kelas 6 SD, sedangkan yang paling bungsu berusia 1 bulan 7 hari.
Sumber : palingseru.com
Ya, keenam anak malang itu menyandang status yatim-piatu secara bersamaan pada Minggu (23/2/2020).
Sang ibu, Siti Haryanti lebih dulu pergi meninggalkan mereka karena tensi darah meningkat setelah melahirkan anak keenam 1 bulan yang lalu.
Kemudian disusuli oleh suaminya, yang juga mengalami peningkatan pada tensi darahnya.
“Sebelumnya anak saya (Siti) itu kan tensinya naik waktu periksa di Puskesmas mulai dari situ sudah tidak normal. Anak saya itu meninggalnya hari Minggu kemarin. Tidak lama kemudian setelah anak saya meninggal itu, suaminya juga langsung naik tensi dan dilarikan ke rumah sakit. Dan tidak lama langsung muncul kabar kalau dia sudah meninggal juga sementara (jenazah) anak saya ini masih dimandikan di rumah,” terang Wa Ode Rusdiana (52), ibu mendiang Siti, dikutip dari Warta Kota.
Kini, keenam bocah malang tersebut diasuh oleh sang nenek Wa Ode Rusdiana dan suaminya, Mustafa (53), dengan dibawa di kediaman mereka di RT 20, Kelurahan Sepinggan Raya, Kecamatan Balikpapan Selatan.
Adapun keenam anak mendiang Siti masih sangat kecil-kecil. Anak pertama baru kelas 6 SD, sedangkan yang paling bungsu berusia 1 bulan 7 hari.
Sumber : palingseru.com
Senin, 24 Februari 2020
Kisah Karyawan Bank yang Tinggalkan Gaji Mentereng dan Banting Setir Menjadi Petani
Meninggalkan kemapanan sebagai pegawai swasta yang selama ini dianggap menjadi zona nyaman memang memiliki tantangan tersendiri. Namun, hal tersebut mampu didobrak oleh seorang pria bernama Theodorus Deddy Tri Kuncoro. Dalam tayangan YouTube yang diunggah oleh Opini.id (14/ 11/2019).
Dalam deskripsi yang disebutkan, Deddy merupakan mantan karyawan sebuah bank swasta di Yogyakarta yang memilih resign dari pekerjaannya. Hebatnya, ia memilih profesi baru sebagai petani sayuran organik setelah tak lagi bekerja di bank. Dari sana, pria asal Lampung Tengah yang lama bermukim di Yogyakarta itu merasakan banyak hal.
Menjadi petani sayuran organik, membuat Deddy memperoleh banyak hal yang selama ini tak diketahui oleh dirinya. Sebelum menggeluti profesi tersebut, Deddy beranggapan bahwa petani identik dengan segala hal yang lekat kesan kuno, ketinggalan zaman, dan lain sebagainya.
Namun, hal tersebut sirna tatkala Deddy benar-benar terjun langsung menjadi seorang petani. Selain memberikan kesejahteraan dalam hidupnya, ia merasa bahwa profesi barunya itu sangat keren. “Jadi sebelumnya tidak tahu bahwa profesi menjadi petani itu keren. Ternyata ya bisa sejahtera”, ucapnya dalam video berjudul “Resign dari Bank Demi Wujudkan Pertanian Organik ” (14/ 11/2019).
Sebelumnya, keputusan Deddy menjadi seorang petani organik sempat tidak disetujui oleh keluarganya. Saat itu, mereka beranggapan bahwa nanti seperti apa prospek petani ke depannya. Deddy yang mulai menekuni profesinya tersebut sejak keluar dari bank pada 2016 silam, mengaku sudah tak mungkin ia kembali ke pekerjaannya yang lama.
Alasannya, ia telah menemukan kenyamanan di profesinya sebagai petani. “Saat ini saya sudah menemukan jalannya yang mungkin waktu dulu belum saya temukan”, ucap Deddy. Selama menjadi petani sayuran organik, ketersediaan lahan menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapinya.
Banyaknya lahan yang tercemar, membuat Deddy harus menguras tenaga dan waktunya dalam waktu yang tak sebentar demi mengolahnya agar kembali subur. Alhasil, waktu selama 1 hingga 2 tahun ia jalani hanya untuk menyuburkan tanah. Dalam kurun tersebut, Deddy sama sekali belum memanen sayuran maupun tanaman lainnya.
Meski demikian, Deddy tetap optimis karena apa yang telah diusahakannya itu diyakini memiliki prospek di masa depan. Di balik tantangan yang ada, selalu ada peluang besar yang bisa dimanfaatkan. “Jika hubungannya dengan pangan, sebenarnya itu adalah masa depan. Selama masih ada manusia hidup, makanan masih dibutuhkan terus”, kata Deddy.
Kini, Dedy dikenal sebagai petani yang menghasilkan produk-produk organik seperti sayuran, buah-buahan, dan tanaman lainnya. Ia berkomitmen untuk menyediakan bahan makan yang sehat dari tanah pertanian miliknya. Bahkan, ia juga memiliki beberapa tips jika lahan yang dikelola belum menghasilkan keuntungan yang diharapkan.
Caranya, lahan yang ada bisa diubah dan diolah sedemikian rupa agar orang tertarik dan mau berkunjung ke tempatnya. Di sana, mereka akan diberi edukasi tentang pertanian dan seluk beluknya, hingga teknik bercocok tanam yang benar. Lewat cara ini, lahan tetap bermanfaat dan produktif meski belum menghasilkan keuntungan dari tanaman yang ada.
Sebagai seorang petani, Deddy ingin mengubah mindset bagi mereka yang tengah menggeluti dunia pertanian supaya mereka tak hanya menyuburkan lahannya, tapi juga mengubah nasib menjadi lebih sejahtera. Seperti yang saat ini telah dilakukan oleh Deddy dengan sayuran dan buah organik produksinya.
Dalam deskripsi yang disebutkan, Deddy merupakan mantan karyawan sebuah bank swasta di Yogyakarta yang memilih resign dari pekerjaannya. Hebatnya, ia memilih profesi baru sebagai petani sayuran organik setelah tak lagi bekerja di bank. Dari sana, pria asal Lampung Tengah yang lama bermukim di Yogyakarta itu merasakan banyak hal.
Menjadi petani sayuran organik, membuat Deddy memperoleh banyak hal yang selama ini tak diketahui oleh dirinya. Sebelum menggeluti profesi tersebut, Deddy beranggapan bahwa petani identik dengan segala hal yang lekat kesan kuno, ketinggalan zaman, dan lain sebagainya.
Namun, hal tersebut sirna tatkala Deddy benar-benar terjun langsung menjadi seorang petani. Selain memberikan kesejahteraan dalam hidupnya, ia merasa bahwa profesi barunya itu sangat keren. “Jadi sebelumnya tidak tahu bahwa profesi menjadi petani itu keren. Ternyata ya bisa sejahtera”, ucapnya dalam video berjudul “Resign dari Bank Demi Wujudkan Pertanian Organik ” (14/ 11/2019).
Sebelumnya, keputusan Deddy menjadi seorang petani organik sempat tidak disetujui oleh keluarganya. Saat itu, mereka beranggapan bahwa nanti seperti apa prospek petani ke depannya. Deddy yang mulai menekuni profesinya tersebut sejak keluar dari bank pada 2016 silam, mengaku sudah tak mungkin ia kembali ke pekerjaannya yang lama.
Alasannya, ia telah menemukan kenyamanan di profesinya sebagai petani. “Saat ini saya sudah menemukan jalannya yang mungkin waktu dulu belum saya temukan”, ucap Deddy. Selama menjadi petani sayuran organik, ketersediaan lahan menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapinya.
Banyaknya lahan yang tercemar, membuat Deddy harus menguras tenaga dan waktunya dalam waktu yang tak sebentar demi mengolahnya agar kembali subur. Alhasil, waktu selama 1 hingga 2 tahun ia jalani hanya untuk menyuburkan tanah. Dalam kurun tersebut, Deddy sama sekali belum memanen sayuran maupun tanaman lainnya.
Meski demikian, Deddy tetap optimis karena apa yang telah diusahakannya itu diyakini memiliki prospek di masa depan. Di balik tantangan yang ada, selalu ada peluang besar yang bisa dimanfaatkan. “Jika hubungannya dengan pangan, sebenarnya itu adalah masa depan. Selama masih ada manusia hidup, makanan masih dibutuhkan terus”, kata Deddy.
Kini, Dedy dikenal sebagai petani yang menghasilkan produk-produk organik seperti sayuran, buah-buahan, dan tanaman lainnya. Ia berkomitmen untuk menyediakan bahan makan yang sehat dari tanah pertanian miliknya. Bahkan, ia juga memiliki beberapa tips jika lahan yang dikelola belum menghasilkan keuntungan yang diharapkan.
Caranya, lahan yang ada bisa diubah dan diolah sedemikian rupa agar orang tertarik dan mau berkunjung ke tempatnya. Di sana, mereka akan diberi edukasi tentang pertanian dan seluk beluknya, hingga teknik bercocok tanam yang benar. Lewat cara ini, lahan tetap bermanfaat dan produktif meski belum menghasilkan keuntungan dari tanaman yang ada.
Sebagai seorang petani, Deddy ingin mengubah mindset bagi mereka yang tengah menggeluti dunia pertanian supaya mereka tak hanya menyuburkan lahannya, tapi juga mengubah nasib menjadi lebih sejahtera. Seperti yang saat ini telah dilakukan oleh Deddy dengan sayuran dan buah organik produksinya.
Anak Yatim Pemulung ini Setiap Hari Kumpulkan Botol Plastik untuk Bisa Makan Sekeluarga
Sorang Netizen dengan nama akun Facebook Nuzuwir Sutan Reno Ali, membagikan foto seorang anak kecil menyandang karung di pundaknya.
Sampai jam ini, postingan foto itu telah dibagikan pengguna Facebook lebih dari 1.400 kali dan mendapat tanda like hampir 4.000.
Dalam foto itu terlihat anak kecil berjilbab tak mengenakan alas kaki.
Informasi dari akun Nuzuwir Sutan Reno Ali, foto itu diduga diambil di depan Masjid Asra Tunggul Hitam, Padang.
Dituliskan juga Anak itu hampir setiap malam setelah Salat Isya berada di depan Masjid Asra Tunggul Hitam.
Pemilik akun menuliskan bertemu saat anak yatim itu hendak pulang ke rumah kontrakan ibunya di Jalan Mawar 4 Pasar Pagi, Rawang Tunggul Hitam, Kota Padang.
Anak itu hujan-hujanan berjalan kaki berkilometer untuk mengumpulkan botol dan plastik bekas.
“Mohon maaf bapak2 dan ibuk2,
Hampir setiap malam usai sholat isya di depan masjid Asra Tunggul Hitam saya ketemu dengan Suci si anak yatim yg mau pulang ke rumah kontrakan ibunya di jl mawar 4 pasar pagi rawang tunggul hitam kota Padang.
Hujan2an dan berjalan kaki berkilo kilometer hampir setiap hari mengumpulkan botol2 plastik bekas.
Apanya dan siapa yg salah anak usia 5 tahun ini harus menjadi bagian tulang punggung keluarganya?
Apakah ibunya “bersalah” seolah-olah dgn sengaja “mengekploitasi” anak kecil utk mencari nafkah?
Ataukah “pemimpin” negeri ini yg tidak tau menau kondisi rakyat yg “hidup segan mati tak mau”?
Sampai kapankah engkau terus begini wahai anak yatim kecil yg “malang”?
Padahal Rasulullah telah mewasiatkan bahwa kitalah “orang tua” dari anak2 yatim tsb.
Ya Allah jauhkan hambamu yg lemah ini dari golongan orang2 pendusta agama aamiin.
Semoga Allah selalu melindungimu wahai Suci yg mewakili anak2 yatim yg terlantar.
Dan semoga saja ada Panti Asuhan Anak Yatim di kota Padang yg mau peduli.” tulis akun Facebook Nuzuwir Sutan Reno Ali.
Sampai jam ini, postingan foto itu telah dibagikan pengguna Facebook lebih dari 1.400 kali dan mendapat tanda like hampir 4.000.
Dalam foto itu terlihat anak kecil berjilbab tak mengenakan alas kaki.
Informasi dari akun Nuzuwir Sutan Reno Ali, foto itu diduga diambil di depan Masjid Asra Tunggul Hitam, Padang.
Dituliskan juga Anak itu hampir setiap malam setelah Salat Isya berada di depan Masjid Asra Tunggul Hitam.
Pemilik akun menuliskan bertemu saat anak yatim itu hendak pulang ke rumah kontrakan ibunya di Jalan Mawar 4 Pasar Pagi, Rawang Tunggul Hitam, Kota Padang.
Anak itu hujan-hujanan berjalan kaki berkilometer untuk mengumpulkan botol dan plastik bekas.
“Mohon maaf bapak2 dan ibuk2,
Hampir setiap malam usai sholat isya di depan masjid Asra Tunggul Hitam saya ketemu dengan Suci si anak yatim yg mau pulang ke rumah kontrakan ibunya di jl mawar 4 pasar pagi rawang tunggul hitam kota Padang.
Hujan2an dan berjalan kaki berkilo kilometer hampir setiap hari mengumpulkan botol2 plastik bekas.
Apanya dan siapa yg salah anak usia 5 tahun ini harus menjadi bagian tulang punggung keluarganya?
Apakah ibunya “bersalah” seolah-olah dgn sengaja “mengekploitasi” anak kecil utk mencari nafkah?
Ataukah “pemimpin” negeri ini yg tidak tau menau kondisi rakyat yg “hidup segan mati tak mau”?
Sampai kapankah engkau terus begini wahai anak yatim kecil yg “malang”?
Padahal Rasulullah telah mewasiatkan bahwa kitalah “orang tua” dari anak2 yatim tsb.
Ya Allah jauhkan hambamu yg lemah ini dari golongan orang2 pendusta agama aamiin.
Semoga Allah selalu melindungimu wahai Suci yg mewakili anak2 yatim yg terlantar.
Dan semoga saja ada Panti Asuhan Anak Yatim di kota Padang yg mau peduli.” tulis akun Facebook Nuzuwir Sutan Reno Ali.
Aksi Heroik 2 Siswa SMPN 1 Turi Selamatkan Rekannya, Danu Mengaku Melihat Teman-temanya Tenggelam: Saya Langsung Lompat Berenang
Sejumlah siswa SMPN 1 Turi Sleman dikabarkan tengah mengalami musibah saat melakukan kegiatan susur sungai.
Ratusan Siswa dikabarkan hanyut terseret arus di Sungai Sempor pada Jumat (21/2/2020) kemarin. Melansir dari Tribun Jogja pada Sabtu (22/2/2020) beberapa siswa yang mengikuti kegiatan pramuka itu, kini dilaporkan hilang dan beberapa ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.
Laporan sebelumya 5 siswa ditemukan meninggal dunia dan 6 siswa dikabarkan hilang.
Sementara itu melansir dari Kompas, kini korban meninggal dikabarkan menjadi 9 orang dan tingal 1 siswa yang belum ditemukan.
Hingga kini tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian korban hilang yang masih belum ditemukan.
Kegiatan pramuka dalam rangka susur sungai itu tentu saja menyisakan duka yang mendalam bagi pihak siswa maupun keluarga korban.
Namun dibalik musibah tersebut, salah satu siswa SMP Negeri 1 Turi, Ahmad Bakir menceritakan dan kesaksiaannya.
“Berangkat dari sekolah ke Kali Sempor itu sekitar jam 15.00 WIB,” ujar Ahmad Bakir saat ditemui di SMP Negeri 1 Turi, Jumat (21/2/2020).
Siswa kelas 8 itu, menyampaikan saat hendak berangkat kondisi memang tengah diguyur hujan deras. Namun, ketika hendak sampai di sungai hujan sudah mulai reda.
Menuturnya kedalaman sungai kala itu berfariasi antara 50 centimeter hingga satu meter.
Saat melakukan susur sungai, Ahmad Bakir pun mengaku apabila kondisi saat itu hanya hujan grimis. Namun, tanpa di sadari air dari hilir membawa debit yang cukup melimpah.
“Enggak terasa, tiba-tiba air datang,” ucapnya.
Ia pun kembali menuturkan apabila saat banjir datang ia sudah sampai di bibir sungai bersama temannya Danu Wahyu.
“Kalau yang hanyut saya tidak tahu, tapi ada yang tenggelam sempat ditolong teman saya (Danu),” ujarnya.
Saat melihat debit air, Bakir berteriak agar teman-temannya agar saling berpegang erat.
Ia juga meminta agar teman-temannya tidak panik.
“Yang di tengah itu panik, terus saya teriak agar jangan panik. Kalau panik kan makin susah,” ungkapnya.
Bakir yang sudah berada di atas akhirnya mencari media untuk menolong temanya.
“Saya langsung cari akar yang panjang, lalu saya lempar ke teman yang di tengah. Satu-satu tarik ke pinggir, ada enam yang tadi saya tarik,” katanya.
Bakir juga menceritakan bahwa dalam susur sungai itu ada pembina dan pendamping pramuka yang berada di sana.
Masing-masing dari mereka berada di posisi yang berbeda yakin di samping depan, belakang dan tengah.
Sementara itu Danu Wahyu yang menyaksikan teman-temannya tengelam akhirnya sepontan kembali masuk ke dalam sungai.
“Lihat ada yang tenggelam terguling-guling, saya langsung lompat berenang. Saya tarik dua yang perempuan ke pinggir, sama satu yang (pegangan) batu di tengah (sungai),” ungkapnya.
Ratusan Siswa dikabarkan hanyut terseret arus di Sungai Sempor pada Jumat (21/2/2020) kemarin. Melansir dari Tribun Jogja pada Sabtu (22/2/2020) beberapa siswa yang mengikuti kegiatan pramuka itu, kini dilaporkan hilang dan beberapa ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.
Laporan sebelumya 5 siswa ditemukan meninggal dunia dan 6 siswa dikabarkan hilang.
Sementara itu melansir dari Kompas, kini korban meninggal dikabarkan menjadi 9 orang dan tingal 1 siswa yang belum ditemukan.
Hingga kini tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian korban hilang yang masih belum ditemukan.
Kegiatan pramuka dalam rangka susur sungai itu tentu saja menyisakan duka yang mendalam bagi pihak siswa maupun keluarga korban.
Namun dibalik musibah tersebut, salah satu siswa SMP Negeri 1 Turi, Ahmad Bakir menceritakan dan kesaksiaannya.
“Berangkat dari sekolah ke Kali Sempor itu sekitar jam 15.00 WIB,” ujar Ahmad Bakir saat ditemui di SMP Negeri 1 Turi, Jumat (21/2/2020).
Siswa kelas 8 itu, menyampaikan saat hendak berangkat kondisi memang tengah diguyur hujan deras. Namun, ketika hendak sampai di sungai hujan sudah mulai reda.
Menuturnya kedalaman sungai kala itu berfariasi antara 50 centimeter hingga satu meter.
Saat melakukan susur sungai, Ahmad Bakir pun mengaku apabila kondisi saat itu hanya hujan grimis. Namun, tanpa di sadari air dari hilir membawa debit yang cukup melimpah.
“Enggak terasa, tiba-tiba air datang,” ucapnya.
Ia pun kembali menuturkan apabila saat banjir datang ia sudah sampai di bibir sungai bersama temannya Danu Wahyu.
“Kalau yang hanyut saya tidak tahu, tapi ada yang tenggelam sempat ditolong teman saya (Danu),” ujarnya.
Saat melihat debit air, Bakir berteriak agar teman-temannya agar saling berpegang erat.
Ia juga meminta agar teman-temannya tidak panik.
“Yang di tengah itu panik, terus saya teriak agar jangan panik. Kalau panik kan makin susah,” ungkapnya.
Bakir yang sudah berada di atas akhirnya mencari media untuk menolong temanya.
“Saya langsung cari akar yang panjang, lalu saya lempar ke teman yang di tengah. Satu-satu tarik ke pinggir, ada enam yang tadi saya tarik,” katanya.
Bakir juga menceritakan bahwa dalam susur sungai itu ada pembina dan pendamping pramuka yang berada di sana.
Masing-masing dari mereka berada di posisi yang berbeda yakin di samping depan, belakang dan tengah.
Sementara itu Danu Wahyu yang menyaksikan teman-temannya tengelam akhirnya sepontan kembali masuk ke dalam sungai.
“Lihat ada yang tenggelam terguling-guling, saya langsung lompat berenang. Saya tarik dua yang perempuan ke pinggir, sama satu yang (pegangan) batu di tengah (sungai),” ungkapnya.
Istri Wakil Walikota Ini Tetap Jualan Nasi di Kantin, "Harta dan Jabatan Hanya Sementara, Tidak Dibawa Mati"
Harta dan jabatan bukan hal yang utama bagi Endang Taqiyyah (49). Meski saat ini suaminya menjadi Wakil Wali Kota Malang, Endang tetap menjalani aktivitasnya sebagai penjual nasi di kantin Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki).
Endang yang saat itu sedang resik-resik, mengatakan biasanya kantin baru ramai sekitar pukul 20.00 WIB. “Anak-anak sampai jam 20.00 WIB masih ada kegiatan kampus PKPBA, selesai kegiatan baru mencari makan,” kata Endang lugas.
Kantin Endang yang bernama Kantin El-Salwa ini, terletak di dalam lingkungan mahad putri UIN Maliki. Pelanggannya mahasiswi UIN Maliki semester 1 yang diwajibkan mondok selama satu tahun.
Kantinnya seperti warung-warung sederhana lainnya. Mejanya terbuat dari kayu biasa, namun model layanannya seperti prasmanan, di mana mahasiswi mengambil sendiri makanannya. Ada 25 macam masakan yang disediakan, dengan lima orang pegawai yang melayani. Endang pun juga ikut menyiapkan masakan meski tidak memasaknya.
Tiap subuh, Endang harus ke Pasar Dinoyo utuk berbelanja keperluan kantinnya. Kalau tidak ada kegiatan protokoler Pemkot Malang, Endang pasti ada di kantinnya.
Ketika jarum jam menunjukan pukul 20.00 WIB, banyak mahasiswi yang mencari makan. Bahkan Endang pun melayani para mahasiswi yang makanannya dibungkus. “Kalau pagi dan siang lebih ramai lagi. Saya malah bungkusnya harus cepat, dan sering kurang rapi,” sambung Endang kemudian tertawa.
Menurut Endang, jabatan suaminya tidak akan mempengaruhi pribadi dan kegiatannya. Bahkan Endang menuturkan, Sutiaji tidak menuntut dirinya menjadi istreri pejabat yang harus tampil perlente. “Saya dan suami menganggap jabatan dan harta hanya amanah dan sementara, tidak dibawa mati. Bapak juga tidak menuntut saya harus begini atau begitu. Saya apa adanya saja,” ujar perempuan asli Pasuruan ini.
Ibu empat orang anak ini menjelaskan, sudah berjualan nasi di UIN Maliki sejak 2007. Bahkan sebelum Sutiaji menjabat sebagai anggota Komisi D DPRD Kota Malang. Meski saat ini Sutiaji menjadi orang nomor 2 di Kota Malang, Endang tetap tidak menutup kantinnya
.
Bagi lulusan UIN Maliki jurusan Tarbiyah ini, kantinnya merupakan pengingat untuk terus bersikap merendah. Endang menuturkan tidak malu berjualan nasi, meski saat ini posisinya sebagai isteri Wakil Wali Kota Malang. “Selama yang saya lakukan halal tidak masalah, bapak pun tidak masalah. Mengenai posisi bapak, Insya Allah saya bisa menyesuaikan diri,” ucapnya.
Pribadi Endang yang apa adanya dan tidak memandang hal duniawi ini karena Endang tergugah dengan Sy’ir Tanpo Wathon milik Gus Dur. Endang menerangkan, hidup manusia itu harus ikhlas, dan jangan memandang rendah orang lain, apalagi membanggakan jabatan dan harta. “Hidup ini ujungnya kematian, jabatan dan harta tidak ikut dibawa. Jadi saya mencoba memandang jabatan suami saya ini sebagai cara mencari ridho Allah SWT,” pungkas Endang.
Nurul Hikmah, dosen Mahad Putri UIN Maliki, mengaku salut dengan Endang. Menurut dosen Bahasa Arab ini, Endang merupakan sosok yang bersahaja. Nurul yang juga alumni UIN Maliki ini bahkan sempat menyaksikan, saat Sutiaji makan di kantin ini saat masih menjadi anggota DPRD.
Saat itu, Nurul melihat sosok Endang dan Sutiaji yang sedang makan bersama di kantin sangat romantis. “Bu Endang ini panutan saya, saya ingin mencontoh beliau. Bu Endang senang guyon, itu yang membuat saya nyaman makan di sini,” imbuh Endang.
Mahasiswi UIN Maliki, Indah mengaku sering makan di Kantin El-Salwa. Makanan favoritnya adalah sayur manisa dan terong panggang. “Harganya murah, paling mahal Rp 9.000. Biasanya Rr 5.000 saya sudah makan enak,” tandas mahasiswi jurusan Bahasa Inggris ini.
Sumber : berkabar.co
Endang yang saat itu sedang resik-resik, mengatakan biasanya kantin baru ramai sekitar pukul 20.00 WIB. “Anak-anak sampai jam 20.00 WIB masih ada kegiatan kampus PKPBA, selesai kegiatan baru mencari makan,” kata Endang lugas.
Kantin Endang yang bernama Kantin El-Salwa ini, terletak di dalam lingkungan mahad putri UIN Maliki. Pelanggannya mahasiswi UIN Maliki semester 1 yang diwajibkan mondok selama satu tahun.
Kantinnya seperti warung-warung sederhana lainnya. Mejanya terbuat dari kayu biasa, namun model layanannya seperti prasmanan, di mana mahasiswi mengambil sendiri makanannya. Ada 25 macam masakan yang disediakan, dengan lima orang pegawai yang melayani. Endang pun juga ikut menyiapkan masakan meski tidak memasaknya.
Tiap subuh, Endang harus ke Pasar Dinoyo utuk berbelanja keperluan kantinnya. Kalau tidak ada kegiatan protokoler Pemkot Malang, Endang pasti ada di kantinnya.
Ketika jarum jam menunjukan pukul 20.00 WIB, banyak mahasiswi yang mencari makan. Bahkan Endang pun melayani para mahasiswi yang makanannya dibungkus. “Kalau pagi dan siang lebih ramai lagi. Saya malah bungkusnya harus cepat, dan sering kurang rapi,” sambung Endang kemudian tertawa.
Menurut Endang, jabatan suaminya tidak akan mempengaruhi pribadi dan kegiatannya. Bahkan Endang menuturkan, Sutiaji tidak menuntut dirinya menjadi istreri pejabat yang harus tampil perlente. “Saya dan suami menganggap jabatan dan harta hanya amanah dan sementara, tidak dibawa mati. Bapak juga tidak menuntut saya harus begini atau begitu. Saya apa adanya saja,” ujar perempuan asli Pasuruan ini.
Ibu empat orang anak ini menjelaskan, sudah berjualan nasi di UIN Maliki sejak 2007. Bahkan sebelum Sutiaji menjabat sebagai anggota Komisi D DPRD Kota Malang. Meski saat ini Sutiaji menjadi orang nomor 2 di Kota Malang, Endang tetap tidak menutup kantinnya
.
Bagi lulusan UIN Maliki jurusan Tarbiyah ini, kantinnya merupakan pengingat untuk terus bersikap merendah. Endang menuturkan tidak malu berjualan nasi, meski saat ini posisinya sebagai isteri Wakil Wali Kota Malang. “Selama yang saya lakukan halal tidak masalah, bapak pun tidak masalah. Mengenai posisi bapak, Insya Allah saya bisa menyesuaikan diri,” ucapnya.
Pribadi Endang yang apa adanya dan tidak memandang hal duniawi ini karena Endang tergugah dengan Sy’ir Tanpo Wathon milik Gus Dur. Endang menerangkan, hidup manusia itu harus ikhlas, dan jangan memandang rendah orang lain, apalagi membanggakan jabatan dan harta. “Hidup ini ujungnya kematian, jabatan dan harta tidak ikut dibawa. Jadi saya mencoba memandang jabatan suami saya ini sebagai cara mencari ridho Allah SWT,” pungkas Endang.
Nurul Hikmah, dosen Mahad Putri UIN Maliki, mengaku salut dengan Endang. Menurut dosen Bahasa Arab ini, Endang merupakan sosok yang bersahaja. Nurul yang juga alumni UIN Maliki ini bahkan sempat menyaksikan, saat Sutiaji makan di kantin ini saat masih menjadi anggota DPRD.
Saat itu, Nurul melihat sosok Endang dan Sutiaji yang sedang makan bersama di kantin sangat romantis. “Bu Endang ini panutan saya, saya ingin mencontoh beliau. Bu Endang senang guyon, itu yang membuat saya nyaman makan di sini,” imbuh Endang.
Mahasiswi UIN Maliki, Indah mengaku sering makan di Kantin El-Salwa. Makanan favoritnya adalah sayur manisa dan terong panggang. “Harganya murah, paling mahal Rp 9.000. Biasanya Rr 5.000 saya sudah makan enak,” tandas mahasiswi jurusan Bahasa Inggris ini.
Sumber : berkabar.co
Orang Tua Pergi Merantau, Bocah Kelas 2 SD Ini Rela Jualan Bakso Demi Bertahan Hidup!
Guratan garis nasib, terkadang membawa seseorang pada kehidupan duniawi yang penuh dengan teka-teki dan perjuangan. Ada yang ditakdirkan dalam kondisi yang serba berkecukupan atau bahkan lebih, namun banyak pula yang dihadapkan dalam kondisi yang penuh dengan keterbatasan. Peristiwa ini telah terjadi beberapa waktu lalu, namun tetap dapat kita ambil hikmah, pelajaran dan inspirasi dari peristiwa tersebut.
Seperti halnya Erwin Utama, Bocah yang waktu lalu duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar asal Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut itu, harus rela jualan bakso tahu keliling kampung demi mencukupi bekal sekolahnya.
Alhasil, ia pun harus rela menukar masa kecilnya yang seharusnya penuh dengan keriangan dan canda tawa, menjadi perjuangan untuk bertahan hidup.
Dilansir dari news.detik.com, Erwin yang bersekolah di Madrasah Iftidaiyyah (MI) Al-Muttaqien ini, mulai berdagang setelah ditinggal orang tuanya Uyu dan Imas yang merantau ke luar kota. Kegiatan berjualan ini pun telah ia lakoni selama tiga bulan terakhir.
Karena ditinggal merantau oleh kedua orang tuanya, Erwin kini tinggal bersama bibinya yang bernama Kokom.
Layaknya pedagang bakso, bocah berusia tujuh tahun itu harus bangun pukul 7 pagi setiap harinya. Dengan langkah kecilnya, Erwin menyusuri kampung-kampung di sekitarnya secara perlahan untuk menawarkan bakso yang ia pikul.
Beban seberat sekitar 8-10 kilogram yang disangga oleh tubuh mungilnya, tak membuatnya merasa canggung saat melayani pembeli.
Bukan apa-apa, hal ini dilakukan olehnya agar bisa jajan di sekolahnya. Sembari berjualan, Erwin juga telah siap untuk berangkat sekolah. Lengkap dengan seragam dan tas di pundaknya. Sementara bahunya menopang dagangan, ia berjalan dengan percaya diri.
Ia bahkan mengaku tak malu dengan apa yang dia jalani, meskipun teman-temannya sendiri di sekolah yang menjadi pelanggan bakso yang dijajakannya.
“Keliling jualan. Enggak malu,” katanya seperti yang dikutip dari news.detik.com.
Tak malu berjualan meski sempat diejek dan diupah Rp 5 ribu perhari
Bakso yang dijual oleh Erwin, bukanlah hasil produksinya sendiri melainkan milik sang tetangga, di mana ia menerima upah sebesar Rp 5 ribu hingga 6 ribu perhari dari hasilnya berdagang seharian.
Meski mendapat upah yang terbilang tidak layak bagi tenaga bocah seusianya, Erwin tetap bersemangat. Tak jarang, dirinya juga pernah diejek lantaran aktivitasnya sebagai pedagang bakso. Erwin mengatakan, tujuannya hanya untuk meringankan beban orang tua. Masyaallah…
Sungguh berat beban yang ditanggung oleh seorang bocah seperti Erwin di atas. Tak hanya harus berjuang menyelesaikan pendidikannya, tapi ia juga harus bekerja keras seorang diri dengan berjualan bakso keliling demi memenuhi kebutuhannya dengan upah yang bakal membuat kita mengelus dada. So, masih suka mengeluh hidup susah Sahabat
Sumber : berkabar.co
Seperti halnya Erwin Utama, Bocah yang waktu lalu duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar asal Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut itu, harus rela jualan bakso tahu keliling kampung demi mencukupi bekal sekolahnya.
Alhasil, ia pun harus rela menukar masa kecilnya yang seharusnya penuh dengan keriangan dan canda tawa, menjadi perjuangan untuk bertahan hidup.
Dilansir dari news.detik.com, Erwin yang bersekolah di Madrasah Iftidaiyyah (MI) Al-Muttaqien ini, mulai berdagang setelah ditinggal orang tuanya Uyu dan Imas yang merantau ke luar kota. Kegiatan berjualan ini pun telah ia lakoni selama tiga bulan terakhir.
Karena ditinggal merantau oleh kedua orang tuanya, Erwin kini tinggal bersama bibinya yang bernama Kokom.
Layaknya pedagang bakso, bocah berusia tujuh tahun itu harus bangun pukul 7 pagi setiap harinya. Dengan langkah kecilnya, Erwin menyusuri kampung-kampung di sekitarnya secara perlahan untuk menawarkan bakso yang ia pikul.
Beban seberat sekitar 8-10 kilogram yang disangga oleh tubuh mungilnya, tak membuatnya merasa canggung saat melayani pembeli.
Bukan apa-apa, hal ini dilakukan olehnya agar bisa jajan di sekolahnya. Sembari berjualan, Erwin juga telah siap untuk berangkat sekolah. Lengkap dengan seragam dan tas di pundaknya. Sementara bahunya menopang dagangan, ia berjalan dengan percaya diri.
Ia bahkan mengaku tak malu dengan apa yang dia jalani, meskipun teman-temannya sendiri di sekolah yang menjadi pelanggan bakso yang dijajakannya.
“Keliling jualan. Enggak malu,” katanya seperti yang dikutip dari news.detik.com.
Tak malu berjualan meski sempat diejek dan diupah Rp 5 ribu perhari
Bakso yang dijual oleh Erwin, bukanlah hasil produksinya sendiri melainkan milik sang tetangga, di mana ia menerima upah sebesar Rp 5 ribu hingga 6 ribu perhari dari hasilnya berdagang seharian.
Meski mendapat upah yang terbilang tidak layak bagi tenaga bocah seusianya, Erwin tetap bersemangat. Tak jarang, dirinya juga pernah diejek lantaran aktivitasnya sebagai pedagang bakso. Erwin mengatakan, tujuannya hanya untuk meringankan beban orang tua. Masyaallah…
Sungguh berat beban yang ditanggung oleh seorang bocah seperti Erwin di atas. Tak hanya harus berjuang menyelesaikan pendidikannya, tapi ia juga harus bekerja keras seorang diri dengan berjualan bakso keliling demi memenuhi kebutuhannya dengan upah yang bakal membuat kita mengelus dada. So, masih suka mengeluh hidup susah Sahabat
Sumber : berkabar.co
Lulus Jadi Polisi, Kisah Anak Tukang Sate Sujud dan Cium Kaki Bapak Depan Komandannya
Pemandangan tidak biasa terjadi di Baruga Polres Palu, Senin (17/02/2020).
Saat para siswa Sekolah Pendidikan Kepolisian Negara (SPN) Labuan Panimba tengah melakukan kegiatan latihan kerja (latja), tiba-tiba ada seorang lelaki paruh baya masuk.
Laki-laki itu disambut seorang remaja berseragam polisi. Remaja itu kemudian sujud dan mencium kaki laki-laki itu.
Momen itu diabadikan seseorang dan kemudian viral di media sosial.
Lelaki paruh baya itu bernama Supriyadi (57), dan polisi yang mencium kakinya adalah Mohammad Risky Saputra (19), anaknya.
Risky, sapaan Mohammad Risky Saputra, saat ini tengah menempuh pendidikan polisi di SPN Labuan Panimba.
Awal Maret 2020, Risky dan rekan lainnya akan dilantik sebagai polisi. Lulusan SMAN 1 Palu ini merupakan anak bungsu pasangan Supriyadi dan Sumarni (51).
Saat KOMPAS.com berkunjung ke rumahnya di Jalan DR Wahidin, Sumarni, ibunda Risky tak mengetahui jika keluarganya tengah jadi sorotan.
“Saya cuma dengar cerita dari orang,” kata Sumarni sambil terkekeh mengingat dirinya yang begitu ketinggalan informasi.
Sumarni kemudian bercerita, tidak menyangka anaknya bisa lolos seleksi sekolah kepolisian.
“Dia bilang sama saya kalau mau daftar polisi, tapi saya bilang uangnya dari mana nak. Risky cuma bilang, ‘saya minta restu dari orangtua, kalau orangtua merestui insyallah pasti ada jalan’,” kata Sumarni, Rabu (19/2/2020).
Risky memang berasal dari keluarga sederhana. Sejak lahir dia tinggal di sebuah rumah papan di Jalan DR Wahidin.
Jalan menuju ke rumah Risky hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua.
Karena itu, Risky bercita-cita ingin membeli rumah untuk orangtuanya jika sudah menjadi polisi.
“Saya sebagai orangtuanya hanya bisa berdoa, apa yang menjadi keinginannya bisa terwujud,” harap Sumarni.
Penuturan ibunya, Rizky merupakan anak penurut. Di lingkungan rumahnya, dia termasuk anak yang ramah dan sopan.
Saat ditanya soal persiapan pelantikan anaknya sebagai polisi, Sumarni dan Supriyadi mengaku sudah siap untuk datang dengan baju terbaik mereka.
Sumber: tribunnews.com
Saat para siswa Sekolah Pendidikan Kepolisian Negara (SPN) Labuan Panimba tengah melakukan kegiatan latihan kerja (latja), tiba-tiba ada seorang lelaki paruh baya masuk.
Laki-laki itu disambut seorang remaja berseragam polisi. Remaja itu kemudian sujud dan mencium kaki laki-laki itu.
Momen itu diabadikan seseorang dan kemudian viral di media sosial.
Lelaki paruh baya itu bernama Supriyadi (57), dan polisi yang mencium kakinya adalah Mohammad Risky Saputra (19), anaknya.
Risky, sapaan Mohammad Risky Saputra, saat ini tengah menempuh pendidikan polisi di SPN Labuan Panimba.
Awal Maret 2020, Risky dan rekan lainnya akan dilantik sebagai polisi. Lulusan SMAN 1 Palu ini merupakan anak bungsu pasangan Supriyadi dan Sumarni (51).
Saat KOMPAS.com berkunjung ke rumahnya di Jalan DR Wahidin, Sumarni, ibunda Risky tak mengetahui jika keluarganya tengah jadi sorotan.
“Saya cuma dengar cerita dari orang,” kata Sumarni sambil terkekeh mengingat dirinya yang begitu ketinggalan informasi.
Sumarni kemudian bercerita, tidak menyangka anaknya bisa lolos seleksi sekolah kepolisian.
“Dia bilang sama saya kalau mau daftar polisi, tapi saya bilang uangnya dari mana nak. Risky cuma bilang, ‘saya minta restu dari orangtua, kalau orangtua merestui insyallah pasti ada jalan’,” kata Sumarni, Rabu (19/2/2020).
Risky memang berasal dari keluarga sederhana. Sejak lahir dia tinggal di sebuah rumah papan di Jalan DR Wahidin.
Jalan menuju ke rumah Risky hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua.
Karena itu, Risky bercita-cita ingin membeli rumah untuk orangtuanya jika sudah menjadi polisi.
“Saya sebagai orangtuanya hanya bisa berdoa, apa yang menjadi keinginannya bisa terwujud,” harap Sumarni.
Penuturan ibunya, Rizky merupakan anak penurut. Di lingkungan rumahnya, dia termasuk anak yang ramah dan sopan.
Saat ditanya soal persiapan pelantikan anaknya sebagai polisi, Sumarni dan Supriyadi mengaku sudah siap untuk datang dengan baju terbaik mereka.
Sumber: tribunnews.com
Langganan:
Komentar (Atom)


















